Kamis, 08 September 2011
Kawasan Transmigrasi Baru Dibangun di Pante Ceureumen
Senin, 5 September 2011 09:00 WIBShare |
MEULABOH - Pemerintah Aceh melalui Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, mulai bulan September ini melaksanakan pembangunan kawasan transmigrasi baru yang berlokasi di Desa Lango, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.
Pembangunan lokasi transmigrasi yang menelan dana mencapai Rp 3,4 miliar yang bersumber dari dana APBA tahun 2011 ini, nantinya akan ditempati oleh 45 kepala keluarga yang berasal dari masyarakat yang berada di sekitar kompleks transmigrasi.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Aceh Barat Drs Mursalin AbdullahAceh Bar kepada Serambi, Minggu (4/9) mengatakan, tujuan pembangunan lokasi transmigrasi baru itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus pemberian lapangan kerja baru bagi warga.
Mengingat selama ini, salah satu cara peningkatan perekonomian masyarakat di wilayah itu, kata Mursalin, dengan cara pembukaan lokasi transmigrasi. Sehingga warga yang nantinya mendapatkan rumah, lahan perkebunan serta berbagai fasilitas itu mampu menghasilkan beraneka hasil pertanian, perkebunan, serta ternak guna menunjang perekonomian masyarakat.
Sedangkan alokasi anggaran sebesar Rp 3,4 milir tersebut, katanya, digunakan untuk penyelesaian rumah, sarana umum, dukungan transportasi (jalan) serta berbagai program lainnya. “Insya Allah, akhir tahun 2011 ini lokasi transmigrasi baru di Desa Lango, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat bisa ditempati. Karena semua kebutuhan masyarakat sudah ditanggung pemerintah khususnya sarana di lokasi penempatan,” pungkas Mursalin Abdullah.(edi)
Sumber Serambinews.com
Label:
Transmigrasi
Lokasi:
Pante Ceuremen, Aceh Barat
Jumat, 19 Agustus 2011
Diamuk Gajah, Seorang Warga Nagan Tewas
Isteri Korban Selamat
Kamis, 11 Agustus 2011 20:10
JEURAM - Abdul Halim (52) tewas dengan perut terburai setelah seekor gajah mengamuk di kebun karet kawasan Sumber Batu Kecamatan meureboh, Nagan Raya, Kamis (11/8).
Isteri korban Nur Hayati (45) yang berhasil selamat dari amukan "Poh Meurah" itu, menuturkan, sekitar pukul 08.00 wib dia bersama suami berada di kebun mereka kawasan Desa Sumber Batu,Kecamatan Meureubo, untuk menderes karet.
Abdul Halim, warga Desa Seumambek, Kecamatan Kuala, saat itu bersama isterinya sedang menderes karet. Tiba-tiba seekor gajah mengamuk dan mendatangi mereka. Nurhayati yang kaget berupaya menyelamatkan diri dengan berlari ke arah badan jalan. Naas suaminya Abdul Halim terjebak di dalam kebun. Meskipun sempat meminta tolong, ia sudah duluan menjadi bulan-bulanan gajah.
Warga yang mendatangi lokasi, menemukan Abdul Halim tewas dengan perut dan usus terburai. Diduga Gajah menusuk korban dengan gadingnya. Isteri korban yang berhasil selamat, sangat trauma dan berduka.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Barat Drs Mursalin Abdullah yang dikonfirmasi Serambinews.com, mengatakan warga Nagan Raya itu tewas diamuk gajah di kawasan pedalaman Kecamatan Meureubo. Korban bukan pertama akibat amukan Gaja. "Kita hanya memberikan bantuan masa panik kepada korban," ujarnya. (dedi)
Sumber Serambinews.com
Kamis, 11 Agustus 2011 20:10
JEURAM - Abdul Halim (52) tewas dengan perut terburai setelah seekor gajah mengamuk di kebun karet kawasan Sumber Batu Kecamatan meureboh, Nagan Raya, Kamis (11/8).
Isteri korban Nur Hayati (45) yang berhasil selamat dari amukan "Poh Meurah" itu, menuturkan, sekitar pukul 08.00 wib dia bersama suami berada di kebun mereka kawasan Desa Sumber Batu,Kecamatan Meureubo, untuk menderes karet.
Abdul Halim, warga Desa Seumambek, Kecamatan Kuala, saat itu bersama isterinya sedang menderes karet. Tiba-tiba seekor gajah mengamuk dan mendatangi mereka. Nurhayati yang kaget berupaya menyelamatkan diri dengan berlari ke arah badan jalan. Naas suaminya Abdul Halim terjebak di dalam kebun. Meskipun sempat meminta tolong, ia sudah duluan menjadi bulan-bulanan gajah.
Warga yang mendatangi lokasi, menemukan Abdul Halim tewas dengan perut dan usus terburai. Diduga Gajah menusuk korban dengan gadingnya. Isteri korban yang berhasil selamat, sangat trauma dan berduka.
Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Barat Drs Mursalin Abdullah yang dikonfirmasi Serambinews.com, mengatakan warga Nagan Raya itu tewas diamuk gajah di kawasan pedalaman Kecamatan Meureubo. Korban bukan pertama akibat amukan Gaja. "Kita hanya memberikan bantuan masa panik kepada korban," ujarnya. (dedi)
Sumber Serambinews.com
Senin, 15 Agustus 2011
Warga Woyla Mulai Krisis Air Bersih
Pantai Barat - 8 August 2011
Meulaboh | Harian Aceh – Kemarau yang melanda Aceh Barat, selain mengganggu pada tanaman pertanian juga berdampak pada krisis air bersih di sejumlah Kecamatan di Aceh Barat. Di Kecamatan Woyla, sumber-sumber air mulai kering. Warga terpaksa mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di sungai yang jauh dari tempat tinggal mereka. Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Samatiga.
Sulaiman, warga Suak Trieng, Kecamatan Woyla Minggu (7/8), mengatakan air sumur mereka sudah kering. “Kami terpaksa ambil air di sungai yang mencapai beberapa kilometer dari tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tiap hari saya harus ambil air dulu sebelum berangkat kerja selama bulan puasa ini,” katanya.
Untuk menghemat persediaan air di rumah, menurut Sulaiman, istri dan dua anaknya terpaksa lebih selektif mengunakan air. “Yang biasanya bisa mandi sepuas-puasnnya, sekarang harus dijatah satu jerigen per orang supaya irit,” tuturnya.
Hal yang sama juga dikatakan Iwan, warga Leuken, Kecamatan Samatiga. Sumurnya yang sudah kering, membuat dia dan keluarganya terpaksa membeli air isi ulang. “Tiap hari kami terpaksa mengambil air sungai hingga beberapa jerigen, meskipun air tersebut sebenarnya tak layak konsumsi namun hanya itu solusi bagi kami, masak dan air minum selain kebutuhan MCK. Maklum sumur betul-betul sudah kering,” jelasnya.(azh)
Sumber Harian Aceh.com
Meulaboh | Harian Aceh – Kemarau yang melanda Aceh Barat, selain mengganggu pada tanaman pertanian juga berdampak pada krisis air bersih di sejumlah Kecamatan di Aceh Barat. Di Kecamatan Woyla, sumber-sumber air mulai kering. Warga terpaksa mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di sungai yang jauh dari tempat tinggal mereka. Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Samatiga.
Sulaiman, warga Suak Trieng, Kecamatan Woyla Minggu (7/8), mengatakan air sumur mereka sudah kering. “Kami terpaksa ambil air di sungai yang mencapai beberapa kilometer dari tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tiap hari saya harus ambil air dulu sebelum berangkat kerja selama bulan puasa ini,” katanya.
Untuk menghemat persediaan air di rumah, menurut Sulaiman, istri dan dua anaknya terpaksa lebih selektif mengunakan air. “Yang biasanya bisa mandi sepuas-puasnnya, sekarang harus dijatah satu jerigen per orang supaya irit,” tuturnya.
Hal yang sama juga dikatakan Iwan, warga Leuken, Kecamatan Samatiga. Sumurnya yang sudah kering, membuat dia dan keluarganya terpaksa membeli air isi ulang. “Tiap hari kami terpaksa mengambil air sungai hingga beberapa jerigen, meskipun air tersebut sebenarnya tak layak konsumsi namun hanya itu solusi bagi kami, masak dan air minum selain kebutuhan MCK. Maklum sumur betul-betul sudah kering,” jelasnya.(azh)
Sumber Harian Aceh.com
Rabu, 10 Agustus 2011
6 Kecamatan Aceh Barat Tertinggal
THURSDAY, 28 JULY 2011 03:49
MEULABOH - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, mencatat dari 12 kecamatan di wilayah itu, enam di antaranya termasuk kawasan tertinggal, karena belum adanya sarana dan prasarana transportasi penghubung.
Asisten II Pemkab Aceh Barat, Hasan Abdullah, mengatakan akibat ketidakmampuan daerah, sehingga pemberantasan kawasan tertinggal hingga 2010 belum dapat dicapai.
"Berdasarkan data, ada enam kecamatan di Aceh Barat yang masih sanggat membutuhkan perhatian khusus dalam penanggulangan kemiskinan serta kesejahteraan rakyat," katanya, hari ini.
Disebutkan, Kecamatan Panton Reu, Sungai Mas, Woyla Timur, Woyla Barat, Merbo, termasuk Kecamatan Johan Pahlawan, ibukota daerah, masih ada sebagian desa yang belum mendapatkan kesetaraan di bidang kesehatan, pendidikan dan masih banyak angka kemiskinan.
Karena itu, melalui pengucuran dana Program Percepatan Pembangunan Daerah tertinggal dan Khusus (P2DTK) oleh pemerintah pusat itu diharapkan tahun 2012 tidak ada lagi kawasan tertinggal di kabupaten itu.
Terhitung sejak tahun 2007 sampai 2011, Kabupaten Aceh Barat telah menghabiskan dana mencapai Rp71 miliar untuk melaksanakan program pemberantasan kemiskinan dan kawasan tertinggal di kawasan itu.
"Dari Rp71 miliar itu, Rp62 miliar dana APBN yang direalisasi melalui program PNPM-MPD, dan Rp8 miliar dana APBD melalui program pemberdayaan masyarakat desa terpencil telah kita habiskan dan kita berharap upaya ini tidak terputus," kata Hasan.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRK Aceh Barat, Abdul Kadir, menambahkan terlebih kawasan berjarak sekitar 70 km dari pusat kota, yakni Kecamatan Sunggai Mas, hingga kini belum mendapatkan suplai arus listrik.
Penanggulangan kemiskinan di Aceh Barat, menurutnya, bukan karena tidak adanya keseriusan pemda, akan tetapi benar terkendala oleh defisit anggaran yang hampir setiap tahun dirasakan pemerintah itu.
"Untung saja pemerintah pusat terus mengucurkan bantuan PNPM untuk daerah kita, karena memang selama ini prioritas pembangunan di Aceh Barat mengutamakan daerah yang padat penduduknya," katanya.
Menurut politisi Partai Golkar ini, strategi pembangunan ini harus dipadukan dengan aparat pemerintah kecamatan dan desa, tidak hanya dilakukan oleh pandangan konsultan managemen program, sehingga pencapaian tepat sasaran.
"Kita berharap saran-saran dari masyarakat terhadap pembanguan diikutsertakan, karena mereka lebih tahu apa yang tepat untuk pembangunan kawasan mereka, terutama arus listrik yang memang menjadi tolak ukur," ujarnya.
Sumber waspada.co.id
MEULABOH - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, mencatat dari 12 kecamatan di wilayah itu, enam di antaranya termasuk kawasan tertinggal, karena belum adanya sarana dan prasarana transportasi penghubung.
Asisten II Pemkab Aceh Barat, Hasan Abdullah, mengatakan akibat ketidakmampuan daerah, sehingga pemberantasan kawasan tertinggal hingga 2010 belum dapat dicapai.
"Berdasarkan data, ada enam kecamatan di Aceh Barat yang masih sanggat membutuhkan perhatian khusus dalam penanggulangan kemiskinan serta kesejahteraan rakyat," katanya, hari ini.
Disebutkan, Kecamatan Panton Reu, Sungai Mas, Woyla Timur, Woyla Barat, Merbo, termasuk Kecamatan Johan Pahlawan, ibukota daerah, masih ada sebagian desa yang belum mendapatkan kesetaraan di bidang kesehatan, pendidikan dan masih banyak angka kemiskinan.
Karena itu, melalui pengucuran dana Program Percepatan Pembangunan Daerah tertinggal dan Khusus (P2DTK) oleh pemerintah pusat itu diharapkan tahun 2012 tidak ada lagi kawasan tertinggal di kabupaten itu.
Terhitung sejak tahun 2007 sampai 2011, Kabupaten Aceh Barat telah menghabiskan dana mencapai Rp71 miliar untuk melaksanakan program pemberantasan kemiskinan dan kawasan tertinggal di kawasan itu.
"Dari Rp71 miliar itu, Rp62 miliar dana APBN yang direalisasi melalui program PNPM-MPD, dan Rp8 miliar dana APBD melalui program pemberdayaan masyarakat desa terpencil telah kita habiskan dan kita berharap upaya ini tidak terputus," kata Hasan.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRK Aceh Barat, Abdul Kadir, menambahkan terlebih kawasan berjarak sekitar 70 km dari pusat kota, yakni Kecamatan Sunggai Mas, hingga kini belum mendapatkan suplai arus listrik.
Penanggulangan kemiskinan di Aceh Barat, menurutnya, bukan karena tidak adanya keseriusan pemda, akan tetapi benar terkendala oleh defisit anggaran yang hampir setiap tahun dirasakan pemerintah itu.
"Untung saja pemerintah pusat terus mengucurkan bantuan PNPM untuk daerah kita, karena memang selama ini prioritas pembangunan di Aceh Barat mengutamakan daerah yang padat penduduknya," katanya.
Menurut politisi Partai Golkar ini, strategi pembangunan ini harus dipadukan dengan aparat pemerintah kecamatan dan desa, tidak hanya dilakukan oleh pandangan konsultan managemen program, sehingga pencapaian tepat sasaran.
"Kita berharap saran-saran dari masyarakat terhadap pembanguan diikutsertakan, karena mereka lebih tahu apa yang tepat untuk pembangunan kawasan mereka, terutama arus listrik yang memang menjadi tolak ukur," ujarnya.
Sumber waspada.co.id
Pansus Rekomendasikan Stop Kegiatan PT PAAL
PT Beutami Harus Kembalikan Tanah Warga
Rabu, 13 Juli 2011 | 07:24
Meulaboh – DPRK Aceh Barat mengeluarkan rekomendasi, meminta PT PAAL untuk memberhetian oprasionalnya dalam bentuk kegiatan apapun di Hutan Aceh Barat, sebelum surat izin pengalihan status kawasan hutan turun dari Menteri Kehutanan di Jakarta. Demikian ditegaskan Ridwan MA, Ketua Pansus, kemarin.
Persentasi rapat hasil Tim Pansus HGU PT. PAAL dan Pansus Pinjam Pakai Tanah PT. Beutami, digelar di DPRK Aceh Barat. Sedangkan terkait kisruh PT. Beutami, pansus DPRK juga merekomendasikan penyelesaian sengketa lahan persemean bibit kelapa sawit antara Masyarakat Teupin panah kecamatan kaway XVI, diselesaikan di lapangan secepat mungkin.
Berdasarkan surat perjanjian antara manajer PT. Beutami, Mahyudin dengan mantan Geuchik Desa Teupin Panah M. Yasin jelas mengurai perjanjian pinjam pakai selama lima tahun terhitung Tahun 2005 hingga Tahun 2010. “Jadi tanah painjam pakai seluas 100 hektar itu harus dikembalikan kembali kepada masyarakat,” kata Ramli SE, anggota Pansus.
Sementara itu, Geuchik Teupin Panah, kecamatan Kaway XVI, Hamdan menyambut baik dengan hasil rekomendasi yang dikeluarkan DPRK Aceh Barat. “Puas kami dengan kerja para anggota DPRK Aceh Barat, bearti mereka selama ini benar-benar bekerja dan menampung seluruh aspirasi warga,” kata Hamdan.
Puluhan perwakilan masyarakat dari kecamatan Kaway XVI dan kecamatan Woyla juga ikut duduk dalam rapat tersebut guna mengawal hasil temuan agar disampaikan di dalam forum. Pertemuan itu dipimpin langsung Wakil Ketua DPRK Aceh Barat Masrijal, S.Si, dengan didampingi Ketua Tim Pansus HGU PT. PAAL dan Pansus Pinjam pakai tanah PT. Beutami, Ridwan. MA.
Para anggota pansus juga terlihat aktif dalam rapat tersebut, yakni Ramli, SE, Bustanuddin, Ridwan.IB, H. Amri, Ilyas Yusuf, dan Murdani. Sementara unsur eksekutif diwakili oleh Asisten I Rusmahdi, S.H, juga Kepala Kantor Bandan Pertanahan Negara (BPN) Aceh Barat, Ir.Taftazani terlihat kosentrasi penuh dengan pemaparan temuan pansus. Sementara pihak PT. PAAL dihadiri oleh Hery, selaku humas perusahan sawit tersebut, guna mengetahui secara pasti rekomenadasi DPRK terhadap perusahan mereka. (den)
Sumber Rakyataceh.com
Rabu, 13 Juli 2011 | 07:24
Meulaboh – DPRK Aceh Barat mengeluarkan rekomendasi, meminta PT PAAL untuk memberhetian oprasionalnya dalam bentuk kegiatan apapun di Hutan Aceh Barat, sebelum surat izin pengalihan status kawasan hutan turun dari Menteri Kehutanan di Jakarta. Demikian ditegaskan Ridwan MA, Ketua Pansus, kemarin.
Persentasi rapat hasil Tim Pansus HGU PT. PAAL dan Pansus Pinjam Pakai Tanah PT. Beutami, digelar di DPRK Aceh Barat. Sedangkan terkait kisruh PT. Beutami, pansus DPRK juga merekomendasikan penyelesaian sengketa lahan persemean bibit kelapa sawit antara Masyarakat Teupin panah kecamatan kaway XVI, diselesaikan di lapangan secepat mungkin.
Berdasarkan surat perjanjian antara manajer PT. Beutami, Mahyudin dengan mantan Geuchik Desa Teupin Panah M. Yasin jelas mengurai perjanjian pinjam pakai selama lima tahun terhitung Tahun 2005 hingga Tahun 2010. “Jadi tanah painjam pakai seluas 100 hektar itu harus dikembalikan kembali kepada masyarakat,” kata Ramli SE, anggota Pansus.
Sementara itu, Geuchik Teupin Panah, kecamatan Kaway XVI, Hamdan menyambut baik dengan hasil rekomendasi yang dikeluarkan DPRK Aceh Barat. “Puas kami dengan kerja para anggota DPRK Aceh Barat, bearti mereka selama ini benar-benar bekerja dan menampung seluruh aspirasi warga,” kata Hamdan.
Puluhan perwakilan masyarakat dari kecamatan Kaway XVI dan kecamatan Woyla juga ikut duduk dalam rapat tersebut guna mengawal hasil temuan agar disampaikan di dalam forum. Pertemuan itu dipimpin langsung Wakil Ketua DPRK Aceh Barat Masrijal, S.Si, dengan didampingi Ketua Tim Pansus HGU PT. PAAL dan Pansus Pinjam pakai tanah PT. Beutami, Ridwan. MA.
Para anggota pansus juga terlihat aktif dalam rapat tersebut, yakni Ramli, SE, Bustanuddin, Ridwan.IB, H. Amri, Ilyas Yusuf, dan Murdani. Sementara unsur eksekutif diwakili oleh Asisten I Rusmahdi, S.H, juga Kepala Kantor Bandan Pertanahan Negara (BPN) Aceh Barat, Ir.Taftazani terlihat kosentrasi penuh dengan pemaparan temuan pansus. Sementara pihak PT. PAAL dihadiri oleh Hery, selaku humas perusahan sawit tersebut, guna mengetahui secara pasti rekomenadasi DPRK terhadap perusahan mereka. (den)
Sumber Rakyataceh.com
Selasa, 09 Agustus 2011
Aceh Barat Usulkan 8.315 Ha Transmigrasi
15 July 2011
Meulaboh – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, pada 2012 mengusulkan 8.315 hektare areal pembaruan dan pemugaran lokasi transmigrasi untuk menempatkan dua ribu kepala keluarga guna mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.
Kepala Bidang Transmigrasi pada Dinsosnakertrans Kabupaten Aceh Barat Faisal di Meulaboh, Kamis menyatakan, data yang diajukan tersebut akan disampaikan pada 18 Juli 2011 ini kepada Departemen Sosial dan Tenaga Kerja.
“Kita belum tahu apakah ini nanti disetujui, karena berdasarkan tahun lalu, hanya seperempat yang diterima, sehingga tahun ini kita mencoba ajukan kembali deprogram pembaruan dan pemugaran lokasi transmigrasi melalui dana APBN,” katanya.
Untuk tahun ini tiga desa yakni Blang Luah, Kecamatan Woyla Barat, telah mengajukan 2.000 Ha, Desa Suak Bidok, Kecamatan Arongan, 180 Ha, dan Antong, Kecamatan Woyla Induk, mengajukan 215 Ha sebagai lokasi transmigran.
Tahun 2011, pengajuan lokasi transmigrasi yang diusulkan sebanyak 300 KK, hanya 45 KK yang disetujui, dari 2.500 Ha luas area hanya 660 Ha yang dinyatakan layak untuk ditempati berdasarkan hasil survei tata ruang kabupaten.
Berbeda dengan tahun ini, Dinsosnakertrans memprioritaskan lokasinya tidak terisolir, sehingga perusahaan swasta yang berada di Kabupaten Aceh Barat dapat mendukung keberadaan mereka sebagai lahan ekonomi.
Karena hal ini juga merupakan program daerah yakni akan menjadikan pusat pertumbuhan ekonomi di dua kecamatan yakni Sungai Mas dan Woyla, akan diprioritaskan 80 persen merupakan transmigran lokal, katanya.
“Penempatan mereka ini nantinya akan didukung oleh perusahaan swasta, sehingga visi dan misi pemerintah nyambung, menggerakan pusat ekonomi di daerah pedalaman tidak lagi hanya berpusat di kota Meulaboh,” tambahnya.
Terkait peluang membuka usaha, kata Faisal, seluruh daerah yang diajukan tersebut memiliki ladang yang cocok dari segi perekonomian, terlebih usaha kebun karet dan kelapa sawit, setelah melalui sejumlah tahapaan, yakni kesepakatan dengan masyarakat setempat, turun tim tata ruang, SK pemerintahan.
“Jika ini telah dilalui barulah kita memprioritaskan, daerah mana yang dijadikan lokasi pengembangan kelapa sawit dan yang manapula lokasi pengembangan karet, karena dua komoditas ini sanggat berpotensi di daerah kita,” kata Faisal.ant
Sumber Harian Aceh.com
Meulaboh – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, pada 2012 mengusulkan 8.315 hektare areal pembaruan dan pemugaran lokasi transmigrasi untuk menempatkan dua ribu kepala keluarga guna mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.
Kepala Bidang Transmigrasi pada Dinsosnakertrans Kabupaten Aceh Barat Faisal di Meulaboh, Kamis menyatakan, data yang diajukan tersebut akan disampaikan pada 18 Juli 2011 ini kepada Departemen Sosial dan Tenaga Kerja.
“Kita belum tahu apakah ini nanti disetujui, karena berdasarkan tahun lalu, hanya seperempat yang diterima, sehingga tahun ini kita mencoba ajukan kembali deprogram pembaruan dan pemugaran lokasi transmigrasi melalui dana APBN,” katanya.
Untuk tahun ini tiga desa yakni Blang Luah, Kecamatan Woyla Barat, telah mengajukan 2.000 Ha, Desa Suak Bidok, Kecamatan Arongan, 180 Ha, dan Antong, Kecamatan Woyla Induk, mengajukan 215 Ha sebagai lokasi transmigran.
Tahun 2011, pengajuan lokasi transmigrasi yang diusulkan sebanyak 300 KK, hanya 45 KK yang disetujui, dari 2.500 Ha luas area hanya 660 Ha yang dinyatakan layak untuk ditempati berdasarkan hasil survei tata ruang kabupaten.
Berbeda dengan tahun ini, Dinsosnakertrans memprioritaskan lokasinya tidak terisolir, sehingga perusahaan swasta yang berada di Kabupaten Aceh Barat dapat mendukung keberadaan mereka sebagai lahan ekonomi.
Karena hal ini juga merupakan program daerah yakni akan menjadikan pusat pertumbuhan ekonomi di dua kecamatan yakni Sungai Mas dan Woyla, akan diprioritaskan 80 persen merupakan transmigran lokal, katanya.
“Penempatan mereka ini nantinya akan didukung oleh perusahaan swasta, sehingga visi dan misi pemerintah nyambung, menggerakan pusat ekonomi di daerah pedalaman tidak lagi hanya berpusat di kota Meulaboh,” tambahnya.
Terkait peluang membuka usaha, kata Faisal, seluruh daerah yang diajukan tersebut memiliki ladang yang cocok dari segi perekonomian, terlebih usaha kebun karet dan kelapa sawit, setelah melalui sejumlah tahapaan, yakni kesepakatan dengan masyarakat setempat, turun tim tata ruang, SK pemerintahan.
“Jika ini telah dilalui barulah kita memprioritaskan, daerah mana yang dijadikan lokasi pengembangan kelapa sawit dan yang manapula lokasi pengembangan karet, karena dua komoditas ini sanggat berpotensi di daerah kita,” kata Faisal.ant
Sumber Harian Aceh.com
Minggu, 07 Agustus 2011
Buaya Kejutkan Warga Aceh Barat
WEDNESDAY, 29 JUNE 2011 21:14
MEULABOH- Seekor buaya (Crocodile) sejak sepekan ini sering muncul di sungai Woyla, sehingga mengejutkan masyarakat di Desa Blang Luah, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, dan mereka takut untuk mencari pasir.
Mustafa Ali (48), anggota Komunitas Masyarakat Siaga Bencana (KMPB) di Kecamatan Woyla Barat, Rabu menyatakan, buaya yang panjangnya sekitar lima meter itu sering muncul di sungai Woyla, sehingga warga yang ingin mencari ikan dan pasir merasa takut.
Ia menyatakan, kehadiran binatang buas ini hanya memperingati anak-anak di wilayah mereka agar menjauhi sungai yang berjarak 50 meter dari pemukiman mereka.
"Buaya di sini muncul apabila anak-anak di kampung kami sudah berlama-lama di sunggai untuk mandi, memancing dan mencuci, tapi dia sampai saat ini belum memangsa penduduk kami, hanya menakut-nakuti saja," kata Mustafa.
Dikatakan, tidak jarang masyarakat setempat kaget dengan munculnya buaya di tenggah sungai Woyla yang lebar sekitar 500 meter itu saat memancing mengunakan perahu kecil, bahkan ada yang menabrak binatang melata ini, akan tetapi dengan berbicara isyarat binatang buas yang dianggap menjaga sungai mereka itu menjauh.
"Kemarin ada tetangga saya menabrak dengan sampan buaya ini tapi tidak dianiaya, setelah terasa perahunya mengesek buaya itu, dia langsung bergegas pulang, karena ketakutan," tambahnya.
Disebutkan, pada Senin (27/6) petang, binatang ini muncul jelas di tengah pemukiman warga, sehingga masyarakat dan anak-anak desa setempat berbondong-bondong menyaksikan buaya sepanjang lima meter itu bersahaja di bawah jembatan pemukiman warga.
Sementara itu, Kepala Desa Blang Luah, Usman Yusuf menyatakan, setiap setahun sekali buaya yang bermain di wilayah mereka memangsa anak-anak, bahkan ada yang hilang tahun lalu ditarik buaya itu belum diketemukan jasadnya.
"Hampir setiap tahun memang ada korbannya, tapi tahun ini belum, yang diambil tahun lalu saja jasadnya hingga kini belum diketemukan, mungkin sudah ditelan habis mana mungkin diantarkan lagi," katanya.
Dipihak lain, Aan (18) remaja desa setempat menyatakan, yang muncul di sunggai Woyla itu merupakan sebagian, jelasnya warga setempat bahkan pernah melihat dua ekor lainnya termasuk buaya puntung yang lebih besar dan panjang juga berkeliaran di sunggai Woyla itu.
"Meraka akan muncul bila air jernih, karena anak-anak di sini tempat mandinya di sungai, kalau airnya sudah mulai keruh seperti saat ini mereka bersembunyi di tebing-tebing pinggiran sunggai," kata Aan.
Sumber waspada.co.id
MEULABOH- Seekor buaya (Crocodile) sejak sepekan ini sering muncul di sungai Woyla, sehingga mengejutkan masyarakat di Desa Blang Luah, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, dan mereka takut untuk mencari pasir.
Mustafa Ali (48), anggota Komunitas Masyarakat Siaga Bencana (KMPB) di Kecamatan Woyla Barat, Rabu menyatakan, buaya yang panjangnya sekitar lima meter itu sering muncul di sungai Woyla, sehingga warga yang ingin mencari ikan dan pasir merasa takut.
Ia menyatakan, kehadiran binatang buas ini hanya memperingati anak-anak di wilayah mereka agar menjauhi sungai yang berjarak 50 meter dari pemukiman mereka.
"Buaya di sini muncul apabila anak-anak di kampung kami sudah berlama-lama di sunggai untuk mandi, memancing dan mencuci, tapi dia sampai saat ini belum memangsa penduduk kami, hanya menakut-nakuti saja," kata Mustafa.
Dikatakan, tidak jarang masyarakat setempat kaget dengan munculnya buaya di tenggah sungai Woyla yang lebar sekitar 500 meter itu saat memancing mengunakan perahu kecil, bahkan ada yang menabrak binatang melata ini, akan tetapi dengan berbicara isyarat binatang buas yang dianggap menjaga sungai mereka itu menjauh.
"Kemarin ada tetangga saya menabrak dengan sampan buaya ini tapi tidak dianiaya, setelah terasa perahunya mengesek buaya itu, dia langsung bergegas pulang, karena ketakutan," tambahnya.
Disebutkan, pada Senin (27/6) petang, binatang ini muncul jelas di tengah pemukiman warga, sehingga masyarakat dan anak-anak desa setempat berbondong-bondong menyaksikan buaya sepanjang lima meter itu bersahaja di bawah jembatan pemukiman warga.
Sementara itu, Kepala Desa Blang Luah, Usman Yusuf menyatakan, setiap setahun sekali buaya yang bermain di wilayah mereka memangsa anak-anak, bahkan ada yang hilang tahun lalu ditarik buaya itu belum diketemukan jasadnya.
"Hampir setiap tahun memang ada korbannya, tapi tahun ini belum, yang diambil tahun lalu saja jasadnya hingga kini belum diketemukan, mungkin sudah ditelan habis mana mungkin diantarkan lagi," katanya.
Dipihak lain, Aan (18) remaja desa setempat menyatakan, yang muncul di sunggai Woyla itu merupakan sebagian, jelasnya warga setempat bahkan pernah melihat dua ekor lainnya termasuk buaya puntung yang lebih besar dan panjang juga berkeliaran di sunggai Woyla itu.
"Meraka akan muncul bila air jernih, karena anak-anak di sini tempat mandinya di sungai, kalau airnya sudah mulai keruh seperti saat ini mereka bersembunyi di tebing-tebing pinggiran sunggai," kata Aan.
Sumber waspada.co.id
Kamis, 04 Agustus 2011
Penderes Karet Tangkap Macan
2 July 2011
Meulaboh Harian Aceh – Zulkifli (45) warga Gampong Ie Itam Baroh Kecamatan Woyla, yang sehari hari berprofesis ebagai penderes karet, Kamis (30/6) sekira pukul 9.00 WIB berhasil menangkap seekor macam dahan Sumatera (neofelis diardi) di perkebunan karet.
Penangkapan itu dilakukan bersama dua temannya Anwar dan M Raden. Sebelum berhasil mengamankan satwa liar itu, mereka mengaku sempat bergumul selama dua jam untuk bisa menaklukan macan dahan tersebut.
Zulkifli kepada wartawan mengatakan, saat ia menderes karet di kebunya, anjing yang selalu menemaninya ke hutan tiba-tiba mengong-gong bersamaan dengan itu ia mendengar suara raungan macan yang membuatnya terperanjat.
Seketika itu dua temanya yang juga penderes karet, Anwar Dan M Raden mencoba mendekati ke arah suara raungan itu, betapa mengejutkan mereka saat mendapatkan seekor macan sedang berhadapan dengan anjing pemburu milik Zulkifli bahkan anjing sempat terluka robek akibat diterkam macan.
Zulkifli mengaku ketakutan ketika mendengar raungan macan lainya di tengah hutan, bahkan M Raden dan Anwar menyebutkan itu adalah anak harimau sumatara yang selama ini meresahkan warga di Woyla, namun setelah dipastikan itu adalah macan dahan Sumatra dengan jenis betina yang hidup di daerah hutan rawa dan pengunungan.
Mereka bertiga berhasil menaklukan satwa liar sekitar pukul 11.00 WIB dengan mengunakan kain untuk menangkap macan dahan tersebut, meski anjing milik Zukifli menderita luka robek akibat digigit macan saat bergumul dalam semak belukar sebelum berhasil ditangkap.
Zulkifli dan dua temannya berhasil memboyong macan itu kerumahnya di Gampong Ie Itam Baroh, seketika itu juga kabar penangkapan harimau merebak yang membuat halaman rumah Zulkifli dipenuhi warga yang ingin menlihat langsung macan tersebut.
Selama ini di kawasan Woyla, Woyla Barat dan Woyla Timur merebak kabar ada tiga jenis harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) asal Aceh berkeliaran di hutan dalam tiga kecamatan itu.
Zulkifli menambahkan, ia bersama kawannya sengaja tidak melukai macan dahan itu, sebab macan dahan spesiesnya sudah langka di Aceh, ia akan mengasuh macan itu dengan memasukan dalam kerangkeng, namun jika ada yang mau membelinya dia bersama kawanya juga tidak keberatan untuk menjualnya.
Macan dahan itu memiliki bulu berwarna kelabu kecoklatan dengan gambaran warna warni dan bintik hitam di tubuhnya. Bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil dan terdapat totol putih di belakang telinga. Selain itu mempunyai kaki pendek dengan telapak kaki besar serta ekor panjang dengan garis dan bintik hitam.
Macan dahan adalah hewan nokturnal yang aktif berburu di malam hari. Hewan ini banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan dapat bergerak dengan lincah di antara pepohonan. Mangsa macan dahan terdiri dari aneka satwa liar berbagai ukuran seperti kera, ular, mamalia kecil, burung, rusa. Macan dahan menggunakan lidahnya untuk membersihkan bulu-bulu sebelum memakan mangsanya. Karena hilangnya habitat hutan, populasi yang terus menyusut dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk diambil bulunya, konsumsi, dan obat-obatan tradisional di beberapa negara.(cwn)
Sumber harian Aceh.com
Meulaboh Harian Aceh – Zulkifli (45) warga Gampong Ie Itam Baroh Kecamatan Woyla, yang sehari hari berprofesis ebagai penderes karet, Kamis (30/6) sekira pukul 9.00 WIB berhasil menangkap seekor macam dahan Sumatera (neofelis diardi) di perkebunan karet.
Penangkapan itu dilakukan bersama dua temannya Anwar dan M Raden. Sebelum berhasil mengamankan satwa liar itu, mereka mengaku sempat bergumul selama dua jam untuk bisa menaklukan macan dahan tersebut.
Zulkifli kepada wartawan mengatakan, saat ia menderes karet di kebunya, anjing yang selalu menemaninya ke hutan tiba-tiba mengong-gong bersamaan dengan itu ia mendengar suara raungan macan yang membuatnya terperanjat.
Seketika itu dua temanya yang juga penderes karet, Anwar Dan M Raden mencoba mendekati ke arah suara raungan itu, betapa mengejutkan mereka saat mendapatkan seekor macan sedang berhadapan dengan anjing pemburu milik Zulkifli bahkan anjing sempat terluka robek akibat diterkam macan.
Zulkifli mengaku ketakutan ketika mendengar raungan macan lainya di tengah hutan, bahkan M Raden dan Anwar menyebutkan itu adalah anak harimau sumatara yang selama ini meresahkan warga di Woyla, namun setelah dipastikan itu adalah macan dahan Sumatra dengan jenis betina yang hidup di daerah hutan rawa dan pengunungan.
Mereka bertiga berhasil menaklukan satwa liar sekitar pukul 11.00 WIB dengan mengunakan kain untuk menangkap macan dahan tersebut, meski anjing milik Zukifli menderita luka robek akibat digigit macan saat bergumul dalam semak belukar sebelum berhasil ditangkap.
Zulkifli dan dua temannya berhasil memboyong macan itu kerumahnya di Gampong Ie Itam Baroh, seketika itu juga kabar penangkapan harimau merebak yang membuat halaman rumah Zulkifli dipenuhi warga yang ingin menlihat langsung macan tersebut.
Selama ini di kawasan Woyla, Woyla Barat dan Woyla Timur merebak kabar ada tiga jenis harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) asal Aceh berkeliaran di hutan dalam tiga kecamatan itu.
Zulkifli menambahkan, ia bersama kawannya sengaja tidak melukai macan dahan itu, sebab macan dahan spesiesnya sudah langka di Aceh, ia akan mengasuh macan itu dengan memasukan dalam kerangkeng, namun jika ada yang mau membelinya dia bersama kawanya juga tidak keberatan untuk menjualnya.
Macan dahan itu memiliki bulu berwarna kelabu kecoklatan dengan gambaran warna warni dan bintik hitam di tubuhnya. Bintik hitam di kepalanya berukuran lebih kecil dan terdapat totol putih di belakang telinga. Selain itu mempunyai kaki pendek dengan telapak kaki besar serta ekor panjang dengan garis dan bintik hitam.
Macan dahan adalah hewan nokturnal yang aktif berburu di malam hari. Hewan ini banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan dapat bergerak dengan lincah di antara pepohonan. Mangsa macan dahan terdiri dari aneka satwa liar berbagai ukuran seperti kera, ular, mamalia kecil, burung, rusa. Macan dahan menggunakan lidahnya untuk membersihkan bulu-bulu sebelum memakan mangsanya. Karena hilangnya habitat hutan, populasi yang terus menyusut dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk diambil bulunya, konsumsi, dan obat-obatan tradisional di beberapa negara.(cwn)
Sumber harian Aceh.com
Selasa, 02 Agustus 2011
Aceh Barat Krisis Air Bersih
18 June 2011
Meulaboh|Harian Aceh – Kemarau panjang sejak satu bulan terakhir mengakibatkan ribuan warga di Kabupaten Aceh Barat mengalami krisis air bersih. Sumur milik warga mengalami kekeringan, sehingga warga sulit mendapatkan air bersih.
Arianto, warga Gampong Langung Kecamatan Meureubo, kepada wartawan, Jumat (17/6) menuturkan dalam sepekan terakhir sumur yang biasa dipakai untuk mendapatkan air mulai kering. ”Sumur kami sudah nampak alas sumur, tak ada lagi air, hanya keruh kalau kita timba,” katanya.
Hal serupa juga terjadi kecamatan lainnya, Bustami. Salah seorang warga Cot Lagan Kecamatan Woyla, mengatakan dalam beberapa hari terakhir sejumlah warga di desa itu terpaksa mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. “Meski air sungai tidak bersih dan bewarna kuning terpaksa kami ambil, karena tak ada solusi lain,” paparnya.
Menurut Bustami, selama ini tak ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat guna mengantisipasi krisis air bersih di desanya. “Tak ada pihak PDAM yang datang kemari atau pun pihak lain yang membawa air bersih, meski pun hal ini selalu kami alami setiap musim kemarau” pungkas Bustami.(azh)
Sumber Harian Aceh.com
Meulaboh|Harian Aceh – Kemarau panjang sejak satu bulan terakhir mengakibatkan ribuan warga di Kabupaten Aceh Barat mengalami krisis air bersih. Sumur milik warga mengalami kekeringan, sehingga warga sulit mendapatkan air bersih.
Arianto, warga Gampong Langung Kecamatan Meureubo, kepada wartawan, Jumat (17/6) menuturkan dalam sepekan terakhir sumur yang biasa dipakai untuk mendapatkan air mulai kering. ”Sumur kami sudah nampak alas sumur, tak ada lagi air, hanya keruh kalau kita timba,” katanya.
Hal serupa juga terjadi kecamatan lainnya, Bustami. Salah seorang warga Cot Lagan Kecamatan Woyla, mengatakan dalam beberapa hari terakhir sejumlah warga di desa itu terpaksa mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. “Meski air sungai tidak bersih dan bewarna kuning terpaksa kami ambil, karena tak ada solusi lain,” paparnya.
Menurut Bustami, selama ini tak ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat guna mengantisipasi krisis air bersih di desanya. “Tak ada pihak PDAM yang datang kemari atau pun pihak lain yang membawa air bersih, meski pun hal ini selalu kami alami setiap musim kemarau” pungkas Bustami.(azh)
Sumber Harian Aceh.com
Senin, 01 Agustus 2011
Gangguan Gajah Ambil Korban
THURSDAY, 02 JUNE 2011 21:10
MEULABOH - Gangguan gajah (Elephas maximus) yang meresahkan warga Kec. Pante Cereumen dan Kaway XVI Kab Aceh Barat sejak sepekan terakhir, akhirnya menelan korban. Alamsyah Bin Hamzah, 35, warga desa Alue BulohKec Kaway XVI menderita patah tulang pinggul setelah diserang mamalia berbelalai itu.
Selain menderita patah tulang pinggul, korban juga mengalami pembengkakan di pipi kiri, dan terpaksa menjalani perawatan di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh. Penyerangan terjadi saat korban bersama ayahnya menuju kebun karet di kawasan Calue, perbatasan Kab. Aceh Barat dan Nagan Raya. Namun di tengah perjalanan, tepatnya kawasan Gunung Tanoh Kuneng, korban yang mengendarai sepeda motor berpapasan dengan gajah.
“Karena berpapasan dengan gajah sepeda motor dihentikan anak saya. Jarak kami sekitar 20 meter dengan gajah. Tapi bukannya masuk ke dalam hutan, gajah langsung mengejar kami yang berada di atas sepeda motor,” kata M. Hamzah, 60.
Melihat gajah mulai marah, Alamsyah langsung melempar sepeda motornya di atas badan jalan dan lari ke kawasan perkebunan karet disekitar lokasi. Namun karena lokasi yang dipenuhi belukar diduga korban terjatuh dan diserang gajah yang diperkirakan berjenis kelamin jantan tersebut.
“Waktu itu saya sudah pasrah karena tidk tahu lari kemana. Sedang Alamsyah masuk kesemak disekitar kawasan berbukit. Saya sempat berteriak karena mendengar anak minta bantuan,”kata M Hamzah. M Hamzah mengatakan, mendengar teriakan, gajah sempat balik hendak menyerang dirinnya. Namun hal itu tidak terjadi setelah dirinya memberikan isyarat ke hewan tersebut.
“Saya bilang, apa tidak cukup kamu sudah celakakan anak saya,”kisah Hamzah pilu saat ditemui diruang bedah Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
Hamzah menyebutkan, setelah gajah pergi, ia langsung melihat kondisi anaknnya yang sudah tak berdaya didalam semak –semak dan langsung membawannya kerumah sakit. Beruntung, kata Hamzah, anaknya tidak sampai diinjak hewan berbelalai tersebut.
“Dia tidak diinjak tapi hanya dihempas oleh gajah, karena kalau diinjak kondisinya parah lagi,”kata Hamzah. Belum Mendapat Perhatian Rustam, 38 warga Alue Buloh mengatakan gangguan gajah sejak sepekan terakhir sangat meresahkan warga di Kec Kaway XVI. Namun kata Rustam belum ada upaya dari pihak terkait untuk menghalau gajah-gajah liar tersebut ke tengah hutan.
Menurutnya, selama ini warga hanya melakukan upaya-upaya tradisional untuk mengusir gajah, namun kondisi itu tidak bertahan lama, gajah kembali turun kepemukiman warga. Dikatakan, gajah tidak hanya merusak belum lahan pertanian warga tapi juga lumbung padi tempat penyimpanan hasil panen.
“Di kawasan tranmigrasi ada 100 rumah yang rusak tapi sampai sekarang tidak ada bantuan apapun. Sekarang warga resah saat hendak menuju kebun mereka. Harapan kami pihak terkait mengatasi ini agar tidak jatuh korban lagi,”pungkasnya.
Seperti diberitakan waspada sebelumnya, ganguan gajah juga terjadi di kecamatan Pante Cereumin Kab Aceh Barat. Menurut warga umumnya gajah turun dimalam hari memakan tanaman di kebun-kebun warga seperti pisang, Pinang dan Kelapa Sawit. Gajah juga merusak lumbung tempat penyimpanan padi warga.
Sumber Waspada.co.id
MEULABOH - Gangguan gajah (Elephas maximus) yang meresahkan warga Kec. Pante Cereumen dan Kaway XVI Kab Aceh Barat sejak sepekan terakhir, akhirnya menelan korban. Alamsyah Bin Hamzah, 35, warga desa Alue BulohKec Kaway XVI menderita patah tulang pinggul setelah diserang mamalia berbelalai itu.
Selain menderita patah tulang pinggul, korban juga mengalami pembengkakan di pipi kiri, dan terpaksa menjalani perawatan di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh. Penyerangan terjadi saat korban bersama ayahnya menuju kebun karet di kawasan Calue, perbatasan Kab. Aceh Barat dan Nagan Raya. Namun di tengah perjalanan, tepatnya kawasan Gunung Tanoh Kuneng, korban yang mengendarai sepeda motor berpapasan dengan gajah.
“Karena berpapasan dengan gajah sepeda motor dihentikan anak saya. Jarak kami sekitar 20 meter dengan gajah. Tapi bukannya masuk ke dalam hutan, gajah langsung mengejar kami yang berada di atas sepeda motor,” kata M. Hamzah, 60.
Melihat gajah mulai marah, Alamsyah langsung melempar sepeda motornya di atas badan jalan dan lari ke kawasan perkebunan karet disekitar lokasi. Namun karena lokasi yang dipenuhi belukar diduga korban terjatuh dan diserang gajah yang diperkirakan berjenis kelamin jantan tersebut.
“Waktu itu saya sudah pasrah karena tidk tahu lari kemana. Sedang Alamsyah masuk kesemak disekitar kawasan berbukit. Saya sempat berteriak karena mendengar anak minta bantuan,”kata M Hamzah. M Hamzah mengatakan, mendengar teriakan, gajah sempat balik hendak menyerang dirinnya. Namun hal itu tidak terjadi setelah dirinya memberikan isyarat ke hewan tersebut.
“Saya bilang, apa tidak cukup kamu sudah celakakan anak saya,”kisah Hamzah pilu saat ditemui diruang bedah Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.
Hamzah menyebutkan, setelah gajah pergi, ia langsung melihat kondisi anaknnya yang sudah tak berdaya didalam semak –semak dan langsung membawannya kerumah sakit. Beruntung, kata Hamzah, anaknya tidak sampai diinjak hewan berbelalai tersebut.
“Dia tidak diinjak tapi hanya dihempas oleh gajah, karena kalau diinjak kondisinya parah lagi,”kata Hamzah. Belum Mendapat Perhatian Rustam, 38 warga Alue Buloh mengatakan gangguan gajah sejak sepekan terakhir sangat meresahkan warga di Kec Kaway XVI. Namun kata Rustam belum ada upaya dari pihak terkait untuk menghalau gajah-gajah liar tersebut ke tengah hutan.
Menurutnya, selama ini warga hanya melakukan upaya-upaya tradisional untuk mengusir gajah, namun kondisi itu tidak bertahan lama, gajah kembali turun kepemukiman warga. Dikatakan, gajah tidak hanya merusak belum lahan pertanian warga tapi juga lumbung padi tempat penyimpanan hasil panen.
“Di kawasan tranmigrasi ada 100 rumah yang rusak tapi sampai sekarang tidak ada bantuan apapun. Sekarang warga resah saat hendak menuju kebun mereka. Harapan kami pihak terkait mengatasi ini agar tidak jatuh korban lagi,”pungkasnya.
Seperti diberitakan waspada sebelumnya, ganguan gajah juga terjadi di kecamatan Pante Cereumin Kab Aceh Barat. Menurut warga umumnya gajah turun dimalam hari memakan tanaman di kebun-kebun warga seperti pisang, Pinang dan Kelapa Sawit. Gajah juga merusak lumbung tempat penyimpanan padi warga.
Sumber Waspada.co.id
Warga Trauma Gangguan Gajah
WEDNESDAY, 01 JUNE 2011 16:11
MEULABOH - Setelah sempat diresahkan dengan gangguan Gajah sejak Jumat malam kemarin, intensitas gangguan Gajah di Desa Lango Kec. Pante Cereumen, Kab. Aceh Barat dilaporkan mulai mereda. Meski demikian warga mengaku masih cemas, karena hewan berbelalai itu masih berada di lokasi transmigrasi yang berjarak sekitar 2 km dari pemukiman.
“Sekarang sudah mulai tenang, karena saat malam hari Gajah tidak lagi masuk ke pemukiman. Tapi gajah masih bertahan di lokasi transmigrasi,” kata Sekretaris Desa Lango, T Jusmadi.
Menurut Jusmadi, jumlah hewan berbelali tersebut lebih dari satu ekor. Namun hanya satu ekor yang sempat masuk dan merusak lahan pertanian warga saat masuk ke pemukiman warga pada Jumat lalu. Sementara, beberapa ekor gajah hanya sampai di lokasi transmigrasi.
“Malam sebelumnya yang turun dan merusak hanya satu ekor, tapi setelah kami lihat ke lokasi transmigrasi ternyata di sana juga ada beberapa ekor gajah. Tapi jumlahnya tidak bisa saya pastikan, mungkin sekitar 5 ekor," katanya.
Hingga saat ini. kata Jusmadi, belum ada pihak dari instansi terkait yang datang untuk meninjau langsung lokasi gangguan gajah. Warga berharap pihak terkait segera mengatasi gangguan hewan tersebut karena dikhawatirkan akan kembali turun ke perkampungan warga.
“Sejak masuk pada jumat malam lalu, gajah memang tidak pernah masuk lagi, tapi sebagian besar warga masih cemas jika sewaktu-waktu hewan tersebut kembali masuk dan merusak tanaman mereka,” ujar T. Jusmadi.
Sumber : Waspada.co.id
MEULABOH - Setelah sempat diresahkan dengan gangguan Gajah sejak Jumat malam kemarin, intensitas gangguan Gajah di Desa Lango Kec. Pante Cereumen, Kab. Aceh Barat dilaporkan mulai mereda. Meski demikian warga mengaku masih cemas, karena hewan berbelalai itu masih berada di lokasi transmigrasi yang berjarak sekitar 2 km dari pemukiman.
“Sekarang sudah mulai tenang, karena saat malam hari Gajah tidak lagi masuk ke pemukiman. Tapi gajah masih bertahan di lokasi transmigrasi,” kata Sekretaris Desa Lango, T Jusmadi.
Menurut Jusmadi, jumlah hewan berbelali tersebut lebih dari satu ekor. Namun hanya satu ekor yang sempat masuk dan merusak lahan pertanian warga saat masuk ke pemukiman warga pada Jumat lalu. Sementara, beberapa ekor gajah hanya sampai di lokasi transmigrasi.
“Malam sebelumnya yang turun dan merusak hanya satu ekor, tapi setelah kami lihat ke lokasi transmigrasi ternyata di sana juga ada beberapa ekor gajah. Tapi jumlahnya tidak bisa saya pastikan, mungkin sekitar 5 ekor," katanya.
Hingga saat ini. kata Jusmadi, belum ada pihak dari instansi terkait yang datang untuk meninjau langsung lokasi gangguan gajah. Warga berharap pihak terkait segera mengatasi gangguan hewan tersebut karena dikhawatirkan akan kembali turun ke perkampungan warga.
“Sejak masuk pada jumat malam lalu, gajah memang tidak pernah masuk lagi, tapi sebagian besar warga masih cemas jika sewaktu-waktu hewan tersebut kembali masuk dan merusak tanaman mereka,” ujar T. Jusmadi.
Sumber : Waspada.co.id
Jumat, 29 Juli 2011
Gajah serang kebun warga
MONDAY, 30 MAY 2011 19:08
MEULABOH - Ratusan warga pedalaman di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kini resah, karena gangguan gajah liar di kawasan itu semakin parah. Selain mengobrak-abrik sekitar 15 hektare (ha) kebun sawit warga, hewan berbelalai itu juga merusak sebuah gubuk yang difungsikan sebagai lumbung padi untuk menyimpan gabah yang baru dipanen.
Camat Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, M Nur Yasin, kemarin mengatakan, gajah yang mengganggu itu tidak banyak, melainkan hanya satu ekor. Tapi daya destruktifnya cukup tinggi dan masif. Dalam beberapa hari saja beraksi, gajah tunggal itu sudah mengobrak-abrik sekitar 15 ha kebun sawit warga di Desa Pulo Teungoh, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat.
Selain itu, gajah dewasa tersebut juga beraksi di Desa Lango, kecamatan yang sama, pada Kamis (27/5) lalu. Di sini, padi yang tersimpan di sebuah gubuk petani yang difungsikan sebagi lumbung padi pascapanen, ikut dilahapnya. Bahkan, gubuk tersebut dirusaknya. “Ini sebab, masyarakat di kawasan pedalaman itu semakin ketakutan. Apalagi letak desa dengan kawasan hutan tempat gajah itu hidup, sangat dekat,” ujar Camat M Nur Yasin.
Menurutnya, gangguan yang disebabkan gajah tunggal itu telah berulang kali terjadi. Warga pun sudah melakukan berbagai upaya agar gangguan satwa yang dilindungi itu segera berakhir. Akan tetapi, gangguannya terus berlanjut, sehingga masyarakat kian resah.
Camat mengaku sudah berulang-ulang menyurati instansi terkait supaya segera turun tangan mengatasi gangguan gajah di pedalaman Pante Ceureumen, Aceh Barat itu. Akan tetapi, hingga kini belum terlihat upaya apa pun ke arah sana.
“Mestinya pihak berwenang segera mengatasinya, jangan sampai kerugian dan keresahan warga bertambah, juga jangan sampai jatuh korban jiwa,” ujar Camat Nur Yasin penuh harap.
Sumber : waspada.co.id
MEULABOH - Ratusan warga pedalaman di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kini resah, karena gangguan gajah liar di kawasan itu semakin parah. Selain mengobrak-abrik sekitar 15 hektare (ha) kebun sawit warga, hewan berbelalai itu juga merusak sebuah gubuk yang difungsikan sebagai lumbung padi untuk menyimpan gabah yang baru dipanen.
Camat Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, M Nur Yasin, kemarin mengatakan, gajah yang mengganggu itu tidak banyak, melainkan hanya satu ekor. Tapi daya destruktifnya cukup tinggi dan masif. Dalam beberapa hari saja beraksi, gajah tunggal itu sudah mengobrak-abrik sekitar 15 ha kebun sawit warga di Desa Pulo Teungoh, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat.
Selain itu, gajah dewasa tersebut juga beraksi di Desa Lango, kecamatan yang sama, pada Kamis (27/5) lalu. Di sini, padi yang tersimpan di sebuah gubuk petani yang difungsikan sebagi lumbung padi pascapanen, ikut dilahapnya. Bahkan, gubuk tersebut dirusaknya. “Ini sebab, masyarakat di kawasan pedalaman itu semakin ketakutan. Apalagi letak desa dengan kawasan hutan tempat gajah itu hidup, sangat dekat,” ujar Camat M Nur Yasin.
Menurutnya, gangguan yang disebabkan gajah tunggal itu telah berulang kali terjadi. Warga pun sudah melakukan berbagai upaya agar gangguan satwa yang dilindungi itu segera berakhir. Akan tetapi, gangguannya terus berlanjut, sehingga masyarakat kian resah.
Camat mengaku sudah berulang-ulang menyurati instansi terkait supaya segera turun tangan mengatasi gangguan gajah di pedalaman Pante Ceureumen, Aceh Barat itu. Akan tetapi, hingga kini belum terlihat upaya apa pun ke arah sana.
“Mestinya pihak berwenang segera mengatasinya, jangan sampai kerugian dan keresahan warga bertambah, juga jangan sampai jatuh korban jiwa,” ujar Camat Nur Yasin penuh harap.
Sumber : waspada.co.id
Selasa, 12 Juli 2011
Tiga Raqan Aceh Barat Harus Dikonsultasikan ke Jakarta
Mon, May 9th 2011, 09:50
MEULABOH - DPRK Aceh Barat memutuskan menunda sidang paripurna sembilan rancangan qanun (raqan) yang semula dijadwalkan akan digelar pekan ini. Keputusan ini diambil karena tiga dari sembilan raqan itu harus dikonsultasikan kembali ke tiga kementrian terkait di Jakarta.
Anggota Badan Legislasi DPRK Aceh Barat, Ir T Risman kepada Serambi Minggu (8/5) menyebutkan, ketiga raqan yang harus dikonsultasikan kembali ke tiga kementrian di Jakarta adalah Raqan Tarif Pelabuhan Jetty bantuan Singapura di Suak Indrapuri Meulaboh, Raqan Tarif Penyeberangan Feri Meulaboh-Simeulue di Kuala Bubon, serta Raqan Tarif Umum Retribusi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah. “Ketiga raqan itu harus dikonsultasikan kembali ke Kementrian Perhubungan, Kemetrian Dalam Negeri, dan Kementrian Keuangan,” ujar Risman.
Menurut dia, langkah ini harus dilakukan karena saat dikonsultasikan ke Biro Hukum Pemerintah Aceh tak ada jawaban. Risman juga mengatakan, pihak Pemerintah Aceh akan mendampangi legislatif dan eksekutif Aceh Barat yang berangkat ke Jakarta untuk kepentingan tersebut, sehingga saat akan diparipurna tak menjadi masalah lagi. Dari hasil konfirmasi ke Jakarta tim ini akan bertemu dengan pihak terkait di tiga kementrian itu pada pekan depan.
“Sedangkan enam raqan lain sudah final pembahasan dan sudah mendapat persetujuan dari Pemerintah Aceh guna bisa disahkan. Setelah tiga raqan ini final maka langsung disahkan,” jelas politisi PAN ini.(riz)
Sumber : Serambinews.com
MEULABOH - DPRK Aceh Barat memutuskan menunda sidang paripurna sembilan rancangan qanun (raqan) yang semula dijadwalkan akan digelar pekan ini. Keputusan ini diambil karena tiga dari sembilan raqan itu harus dikonsultasikan kembali ke tiga kementrian terkait di Jakarta.
Anggota Badan Legislasi DPRK Aceh Barat, Ir T Risman kepada Serambi Minggu (8/5) menyebutkan, ketiga raqan yang harus dikonsultasikan kembali ke tiga kementrian di Jakarta adalah Raqan Tarif Pelabuhan Jetty bantuan Singapura di Suak Indrapuri Meulaboh, Raqan Tarif Penyeberangan Feri Meulaboh-Simeulue di Kuala Bubon, serta Raqan Tarif Umum Retribusi pada Satuan Kerja Perangkat Daerah. “Ketiga raqan itu harus dikonsultasikan kembali ke Kementrian Perhubungan, Kemetrian Dalam Negeri, dan Kementrian Keuangan,” ujar Risman.
Menurut dia, langkah ini harus dilakukan karena saat dikonsultasikan ke Biro Hukum Pemerintah Aceh tak ada jawaban. Risman juga mengatakan, pihak Pemerintah Aceh akan mendampangi legislatif dan eksekutif Aceh Barat yang berangkat ke Jakarta untuk kepentingan tersebut, sehingga saat akan diparipurna tak menjadi masalah lagi. Dari hasil konfirmasi ke Jakarta tim ini akan bertemu dengan pihak terkait di tiga kementrian itu pada pekan depan.
“Sedangkan enam raqan lain sudah final pembahasan dan sudah mendapat persetujuan dari Pemerintah Aceh guna bisa disahkan. Setelah tiga raqan ini final maka langsung disahkan,” jelas politisi PAN ini.(riz)
Sumber : Serambinews.com
Dishut Diminta Usut Penebangan Hutan
Sun, May 8th 2011, 09:00

Dua anggota DPRK Aceh Barat, Ibrahim dan Ramli memperlihatkan surat Kemenhut RI, yang memerintahkan Dinas Kehutanan mengusut soal penebangan secara besar-besaran hutan untuk areal PT PAAL di Aceh Barat, Jumat (6/5) SERAMBI-RIZWAN
MEULABOH - Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Direktorat Penyidikan dan Pengamanan Hutan Kementerian Kehutanan RI, telah memerintahkan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh dan Kepala Dinas Kehutanan Aceh Barat untuk mengusut temuan DPRK Aceh Barat soal hutan. Sebelumnya, dewan melaporkan sejumlah lokasi hutan di Aceh Barat telah ditebang secara ilegal untuk areal perkebunan PT Prima Agro Aceh Lestari (PAAL) untk lahan perkebunan sawit.
Kadis Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat, T Helmi SP MM menjawab Serambi, Jumat (6/5) membenarkan bahwa pihaknya sudah membentuk tim yang akan turun ke lokasi sebagaimana yang dilaporkan itu.
“Tim kita turun pada Sabtu (7/5) ke lapanan atas surat bupati,” ujar Helmi seraya menyatakan laporan itu akan dilaporkan ke pimpinan serta selanjutnya juga akan disampaikan kepada Kementerian Kehutanan sebagaimana surat yang pernah diterimanya.
Dalam surat Kemenhut yang kopiannya diperoleh Serambi dinyatakan, memperhatikan surat DPRK Aceh Barat pada 25 Nopember 2010 dan surat Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan tanggal 23 Januari 2011 berisikan telah terjadi penebangan hutan secara besar-besaran secara ilegal yang dilakukan PT PAAL di Kecamatan Samatiga, Bubon, Arongan Lambalek, dan Woyla Barat, serta data di Kemenhut, bahwa perusahaan tersebut tidak mengajukan permohonan pelepasan hutan untuk perkebunan.
Karena itu, tulis surat ini, diminta Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh dan Dinas Kehutanan Aceh Barat untuk melakukan pengumpulan keterangan dan bila laporan itu mengandung kebenaran dan adanya bukti yang cukup telah melawan hukum di bidang kehutanan agar diproses sesuai hukum.
Surat yang diteken Ir Raffles B Panjaitan Msc tersebut ditembuskan ke Gubernur Aceh, Dirjen PHKA di Jakarta, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan kawasan Hutan di Jakarta, Bupati Aceh Barat, dan Kapolres Aceh Barat.
Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRK Aceh Barat, Ibrahim Husen SE didampingi anggota, Ramli SE, mengatakan, pihaknya pernah menyurati Kemenhut agar diturunkan tim ke lapangan bahwa PT PAAL karena sejak tahun 2009 telah melakukan penebangan hutan secara besar-besaran secara ilegal dan merampas tanah milik rakyat.
Ibrahim mengatakan pihak DPRK siap menunjukkan lokasi hutan yang ditebang secara liar dan anehnya lagi perusahan perkebunan yang sejauh ini hanya baru izin prinsip sudah melakukan kegiatan di lapangan yakni membuka areal seluas 8.600 hektare. “Surat kita layangkan itu agar tim Kemenhut melihat langsung di lapangan dan segera menhentikan kegiatannya,” jelas Ibrahim.(riz)
Sumber : Serambinews.com

Dua anggota DPRK Aceh Barat, Ibrahim dan Ramli memperlihatkan surat Kemenhut RI, yang memerintahkan Dinas Kehutanan mengusut soal penebangan secara besar-besaran hutan untuk areal PT PAAL di Aceh Barat, Jumat (6/5) SERAMBI-RIZWAN
MEULABOH - Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Direktorat Penyidikan dan Pengamanan Hutan Kementerian Kehutanan RI, telah memerintahkan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh dan Kepala Dinas Kehutanan Aceh Barat untuk mengusut temuan DPRK Aceh Barat soal hutan. Sebelumnya, dewan melaporkan sejumlah lokasi hutan di Aceh Barat telah ditebang secara ilegal untuk areal perkebunan PT Prima Agro Aceh Lestari (PAAL) untk lahan perkebunan sawit.
Kadis Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat, T Helmi SP MM menjawab Serambi, Jumat (6/5) membenarkan bahwa pihaknya sudah membentuk tim yang akan turun ke lokasi sebagaimana yang dilaporkan itu.
“Tim kita turun pada Sabtu (7/5) ke lapanan atas surat bupati,” ujar Helmi seraya menyatakan laporan itu akan dilaporkan ke pimpinan serta selanjutnya juga akan disampaikan kepada Kementerian Kehutanan sebagaimana surat yang pernah diterimanya.
Dalam surat Kemenhut yang kopiannya diperoleh Serambi dinyatakan, memperhatikan surat DPRK Aceh Barat pada 25 Nopember 2010 dan surat Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan tanggal 23 Januari 2011 berisikan telah terjadi penebangan hutan secara besar-besaran secara ilegal yang dilakukan PT PAAL di Kecamatan Samatiga, Bubon, Arongan Lambalek, dan Woyla Barat, serta data di Kemenhut, bahwa perusahaan tersebut tidak mengajukan permohonan pelepasan hutan untuk perkebunan.
Karena itu, tulis surat ini, diminta Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh dan Dinas Kehutanan Aceh Barat untuk melakukan pengumpulan keterangan dan bila laporan itu mengandung kebenaran dan adanya bukti yang cukup telah melawan hukum di bidang kehutanan agar diproses sesuai hukum.
Surat yang diteken Ir Raffles B Panjaitan Msc tersebut ditembuskan ke Gubernur Aceh, Dirjen PHKA di Jakarta, Kapolda Aceh, Kajati Aceh, Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan kawasan Hutan di Jakarta, Bupati Aceh Barat, dan Kapolres Aceh Barat.
Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRK Aceh Barat, Ibrahim Husen SE didampingi anggota, Ramli SE, mengatakan, pihaknya pernah menyurati Kemenhut agar diturunkan tim ke lapangan bahwa PT PAAL karena sejak tahun 2009 telah melakukan penebangan hutan secara besar-besaran secara ilegal dan merampas tanah milik rakyat.
Ibrahim mengatakan pihak DPRK siap menunjukkan lokasi hutan yang ditebang secara liar dan anehnya lagi perusahan perkebunan yang sejauh ini hanya baru izin prinsip sudah melakukan kegiatan di lapangan yakni membuka areal seluas 8.600 hektare. “Surat kita layangkan itu agar tim Kemenhut melihat langsung di lapangan dan segera menhentikan kegiatannya,” jelas Ibrahim.(riz)
Sumber : Serambinews.com
Rabu, 22 Juni 2011
Aceh Barat Butuh Industri Pengolah Karet
Thu, Apr 28th 2011, 07:51
MEULABOH-Pemkab Aceh Barat membutuhkan industri pengolahan karet untuk meningkatkan nilai tambah komoditas itu di daerah tersebut. “Hingga saat ini kami belum memiliki sebuah industri pengolahan karet yang mengolah karet produksi masyarakat sebagai bahan setengah jadi,” kata Wakil Bupati Aceh Barat Fuadri di Meulaboh, Rabu.
Hal itu disampaikan terkait belum adanya investor yang menanamkan sahamnya di sektor industi pengolahan karet di daerah tersebut. Dikatakannya, industri pengolahan karet tersebut sangat dibutuhkan dalam mendongkrak harga dan meningkatkan produksi komoditas itu di masa mendatang.
Disebutkannya, Kabupaten Aceh Barat memiliki luas lahan karet sekitar 25.000 hektare terdiri dari 20.000 hektare milik masyarakat dan 5.000 hektare milik swasta. Setiap tahunnya kabupaten tersebut menghasilkan sekitar 12.000 ton karet.
“Artinya, produksi yang dimiliki tersebut akan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku bagi perusahaan pengolah yang akan beroperasi di Aceh Barat,” katanya.
Pihaknya terus berupaya untuk menghadirkan para investor agar bisa menanamkan modalnya di negeri Teuku Umar di sektor industri pengolohan karet. “Kita berharap akan ada para pengusaha yang melakukan investasi disektor perindustrusian disektor perkebunan terutama industri perkebunan,” katanya.
Dijelaskannya, produksi karet untuk wilayah pantai barat selayan yakni Nagan Raya, Aceh Barat dan Aceh Jaya memiliki produksi sekitar 20 ribu/tahun. “Kami optimistis dengan adanya perusahaan pengolahan akan meningkatkan nilai beli dari petani,” demikian Fuadri.(ant)
Sumber : Serambinews.com
MEULABOH-Pemkab Aceh Barat membutuhkan industri pengolahan karet untuk meningkatkan nilai tambah komoditas itu di daerah tersebut. “Hingga saat ini kami belum memiliki sebuah industri pengolahan karet yang mengolah karet produksi masyarakat sebagai bahan setengah jadi,” kata Wakil Bupati Aceh Barat Fuadri di Meulaboh, Rabu.
Hal itu disampaikan terkait belum adanya investor yang menanamkan sahamnya di sektor industi pengolahan karet di daerah tersebut. Dikatakannya, industri pengolahan karet tersebut sangat dibutuhkan dalam mendongkrak harga dan meningkatkan produksi komoditas itu di masa mendatang.
Disebutkannya, Kabupaten Aceh Barat memiliki luas lahan karet sekitar 25.000 hektare terdiri dari 20.000 hektare milik masyarakat dan 5.000 hektare milik swasta. Setiap tahunnya kabupaten tersebut menghasilkan sekitar 12.000 ton karet.
“Artinya, produksi yang dimiliki tersebut akan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku bagi perusahaan pengolah yang akan beroperasi di Aceh Barat,” katanya.
Pihaknya terus berupaya untuk menghadirkan para investor agar bisa menanamkan modalnya di negeri Teuku Umar di sektor industri pengolohan karet. “Kita berharap akan ada para pengusaha yang melakukan investasi disektor perindustrusian disektor perkebunan terutama industri perkebunan,” katanya.
Dijelaskannya, produksi karet untuk wilayah pantai barat selayan yakni Nagan Raya, Aceh Barat dan Aceh Jaya memiliki produksi sekitar 20 ribu/tahun. “Kami optimistis dengan adanya perusahaan pengolahan akan meningkatkan nilai beli dari petani,” demikian Fuadri.(ant)
Sumber : Serambinews.com
Selasa, 21 Juni 2011
332 Desa di Aceh Barat Rawan Bencana
Wed, Apr 20th 2011, 09:34
MEULABOH - Bupati Aceh Barat dalam urat Keputusan Nomor : 55a Tahun 2011 tanggal 22 Februari 2011 lalu, kini telah menetapkan 322 desa yang tersebar di 12 kecamatan di kabupaten itu sebagai desa yang rawan bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek SH kepada Serambi, Selasa (19/4) mengatakan, ke 212 desa atau 65,84 persen dari semua desa di Aceh Barat, itu merupakan desa yang sering dilanda banjir minimal setahun sekali.
“Bahkan ada desa yang banjir sampai tiga hingga empat kali dalam setahun seperti Napai, Pasi Masjid, Cot Amun, serta Alue Leuhob,” katanya. Menurutnya, desa yang menjadi langganan banjir perlu dipikirkan tempat evakuasi sementara yang permanen. Tempat tersebut jika tidak sedang banjir bisa digunakan untuk fasilitas umum seperti tempat pengajian.
Di sisi lain, kata Dadek, di Kabupaten Aceh Barat terdapat 27 desa atau 8,39 persen sebagai desa yang rawan terjadinya kebakaran lahan yang tersebar di lima kecamatan. Yaitu, Johan Pahlawan (3 desa), Samatiga (12 desa), Arongan (5 desa), dan Woyla Barat (7 desa).
Selain menerbitkan peta rawan bencana, katanya, Pemkab Aceh Barat juga telah menetapkan arah evakuasi, tempat penampungan sementara, gedung penyelamatan yang akan segera dilakukan sosialisasi bagi masyarakat, sehingga kesiap-siagaan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadinya bencana bisa terhindar dari musibah apalagi merenggut korban jiwa.(edi)
Sumber : Serambinews.com
MEULABOH - Bupati Aceh Barat dalam urat Keputusan Nomor : 55a Tahun 2011 tanggal 22 Februari 2011 lalu, kini telah menetapkan 322 desa yang tersebar di 12 kecamatan di kabupaten itu sebagai desa yang rawan bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek SH kepada Serambi, Selasa (19/4) mengatakan, ke 212 desa atau 65,84 persen dari semua desa di Aceh Barat, itu merupakan desa yang sering dilanda banjir minimal setahun sekali.
“Bahkan ada desa yang banjir sampai tiga hingga empat kali dalam setahun seperti Napai, Pasi Masjid, Cot Amun, serta Alue Leuhob,” katanya. Menurutnya, desa yang menjadi langganan banjir perlu dipikirkan tempat evakuasi sementara yang permanen. Tempat tersebut jika tidak sedang banjir bisa digunakan untuk fasilitas umum seperti tempat pengajian.
Di sisi lain, kata Dadek, di Kabupaten Aceh Barat terdapat 27 desa atau 8,39 persen sebagai desa yang rawan terjadinya kebakaran lahan yang tersebar di lima kecamatan. Yaitu, Johan Pahlawan (3 desa), Samatiga (12 desa), Arongan (5 desa), dan Woyla Barat (7 desa).
Selain menerbitkan peta rawan bencana, katanya, Pemkab Aceh Barat juga telah menetapkan arah evakuasi, tempat penampungan sementara, gedung penyelamatan yang akan segera dilakukan sosialisasi bagi masyarakat, sehingga kesiap-siagaan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadinya bencana bisa terhindar dari musibah apalagi merenggut korban jiwa.(edi)
Sumber : Serambinews.com
Pemkab Aceh Barat Ganti Tiga Pejabat
Tue, Apr 19th 2011, 09:42
MEULABOH-Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Senin (18/4) kemarin memutasi 16 pejabat yang terdiri dari eselon II, III dan IV. Acara dipimpin Sekdakab Bukhari MM berlangsung di aula Setdakabsetempat.
Adapun pejabat yang diganti dari jabatannya itu masing-masing, Asisten II bidang Keistimewaan Aceh dan Ekobang, Drs Adami Umar MPd digantikan oleh Drs Hasan Abdullah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BPM setempat.
Kepala Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BPPKP), Ulul Izmi SP digantikan oleh Ir T Zainal Abidin MT yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan, serta staf ahli bupati bidang keistimewaan Aceh, T Usman Basyah SH digantikan oleh Arifin Yahya SH, yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Pemerintahan Umum Setdakab Aceh Barat.
Posisi yang ditinggalkan oleh Hasan Abdullah selaku Kepala BPM Aceh Barat diisi oleh Drs Hasballah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Syariat Islam dan Pemberdayaan Dayah, dan jabatan Kadis Syariat Islam diisi oleh Drs Zainuddin sebelumnya Kabid Pengembangan SDM Syariat Islam.
Kemudian Kabid Sosial pada Dinsosnakertrasn, Hamdani dipromosikan menjadi Camat Panton Reue, dan jabatan yang ditinggalkan itu digantikan oleh Syamsul Bahri yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Panton Reue. Kemudian Drs Saiful TH MM dilantik menjadi Kabag Pemerintahan Umum Setdakab dari jabatan sebelumnya sebagai staf di Bagian Kepegawaian.
Drs T Samsul Alam MA selaku Kabag Keistimewaan dan Kesra Setdakab dilantik sebagai Sekretaris Diskominfo, dan jabatan yang ditinggalkan itu diisi oleh Raja Sayang SE, yang sebelumnya menjabat sebagai staf di BPM setempat. Indra Zulhan SH dilantik sebagai Kasubag Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat pada KPUD, Cut Didi Yanti BSc selaku Kasubag Informasi pada Bagian Humas setdakab dilantik sebagai Kasubag Umum dan Kesra pada Bagian Kepegawaian setempat dan jabatan yang ditinggalkan itu diisi oleh Drs Syamsul Bahri selaku staf Bagian Umum dan Perlengkapan Setdakab Aceh Barat.
Dalam sambutannya, Bupati Aceh Barat H Ramli MS yang dibacakan oleh Plt Sekda Bukhari MM mengatakan mutasi yang dilakukan itu sebagai bentuk penyegaran dalam sebuah organisasi pemerintahan. (edi)
Sumber : Serambinews.com
MEULABOH-Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Senin (18/4) kemarin memutasi 16 pejabat yang terdiri dari eselon II, III dan IV. Acara dipimpin Sekdakab Bukhari MM berlangsung di aula Setdakabsetempat.
Adapun pejabat yang diganti dari jabatannya itu masing-masing, Asisten II bidang Keistimewaan Aceh dan Ekobang, Drs Adami Umar MPd digantikan oleh Drs Hasan Abdullah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BPM setempat.
Kepala Badan Penyuluh Pertanian dan Ketahanan Pangan (BPPKP), Ulul Izmi SP digantikan oleh Ir T Zainal Abidin MT yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan, serta staf ahli bupati bidang keistimewaan Aceh, T Usman Basyah SH digantikan oleh Arifin Yahya SH, yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Pemerintahan Umum Setdakab Aceh Barat.
Posisi yang ditinggalkan oleh Hasan Abdullah selaku Kepala BPM Aceh Barat diisi oleh Drs Hasballah yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Syariat Islam dan Pemberdayaan Dayah, dan jabatan Kadis Syariat Islam diisi oleh Drs Zainuddin sebelumnya Kabid Pengembangan SDM Syariat Islam.
Kemudian Kabid Sosial pada Dinsosnakertrasn, Hamdani dipromosikan menjadi Camat Panton Reue, dan jabatan yang ditinggalkan itu digantikan oleh Syamsul Bahri yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Panton Reue. Kemudian Drs Saiful TH MM dilantik menjadi Kabag Pemerintahan Umum Setdakab dari jabatan sebelumnya sebagai staf di Bagian Kepegawaian.
Drs T Samsul Alam MA selaku Kabag Keistimewaan dan Kesra Setdakab dilantik sebagai Sekretaris Diskominfo, dan jabatan yang ditinggalkan itu diisi oleh Raja Sayang SE, yang sebelumnya menjabat sebagai staf di BPM setempat. Indra Zulhan SH dilantik sebagai Kasubag Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat pada KPUD, Cut Didi Yanti BSc selaku Kasubag Informasi pada Bagian Humas setdakab dilantik sebagai Kasubag Umum dan Kesra pada Bagian Kepegawaian setempat dan jabatan yang ditinggalkan itu diisi oleh Drs Syamsul Bahri selaku staf Bagian Umum dan Perlengkapan Setdakab Aceh Barat.
Dalam sambutannya, Bupati Aceh Barat H Ramli MS yang dibacakan oleh Plt Sekda Bukhari MM mengatakan mutasi yang dilakukan itu sebagai bentuk penyegaran dalam sebuah organisasi pemerintahan. (edi)
Sumber : Serambinews.com
Rabu, 08 Juni 2011
Pertanyakan Asal-usul Kayu
Dishut Akan Panggil Pemilik Kilang
Sat, Apr 9th 2011, 08:56
MEULABOH - Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat menyatakan sudah menjadwalkan akan memanggil seluruh pemilik kilang kayu yang selama ini beroperasi di wilayah itu. Pemanggilan dimaksudkan guna memastikan asal-usul kayu-kayu yang selama ini yang menjadi bahan baku mereka.
Menjawab Serambi, Jumat (8/4), Kadis Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat, T Helmi SP mengatakan, pihaknya sudah pernah menjadwalkan dalam pekan ini digelar pertemuan dengan sejumlah pemilik kilang kayu. Namun karena ada halangan sehingga diundur dan sudah dijadwalkan kembali dalam waktu dekat ini. “Kita akana duduk dan pertanyakan bahan baku yang selama ini mereka gunakan,” ujarnya.
Helmi menyatakan langkah ini juga dalam upaya mengetahui lebih pasti sehingga guna mencegah agar tidak ditebang secara liar terutama pada lokasi hutan lindung dan sejauh ini dari pengamatan tak ditebang di hutan lindung. Dengan adanya pertemuan itu akan diketahui lebih jelas terhadap informasi dan bila ditemukan bahan baku kayu ilegal akan ditindak sesuai hukum berlaku.
Sebelumnya saat meninjau lokasi banjir di Pante Ceureumen pekan lalu, anggota DPR Aceh asal Aceh Barat, H Fadli MA meminta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat melakukan penyelidikan terhadap munculnya kayu-kayu gelondongan di lokasi banjir sehingga menjadi jelas kayu dari mana, apakah dari pembalakan liar atau kayu dari mana.
Sebab selama ini, Aceh sudah jeda tebang sehingga patut dipertanyakan. “Apalagi di kawasan itu ada sejumlah kilang kayu sehingga kita pertanyakan bahan baku dari mana,” ujar Fadli.(riz)
Sumber : Serambinews.com
Sat, Apr 9th 2011, 08:56
MEULABOH - Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat menyatakan sudah menjadwalkan akan memanggil seluruh pemilik kilang kayu yang selama ini beroperasi di wilayah itu. Pemanggilan dimaksudkan guna memastikan asal-usul kayu-kayu yang selama ini yang menjadi bahan baku mereka.
Menjawab Serambi, Jumat (8/4), Kadis Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat, T Helmi SP mengatakan, pihaknya sudah pernah menjadwalkan dalam pekan ini digelar pertemuan dengan sejumlah pemilik kilang kayu. Namun karena ada halangan sehingga diundur dan sudah dijadwalkan kembali dalam waktu dekat ini. “Kita akana duduk dan pertanyakan bahan baku yang selama ini mereka gunakan,” ujarnya.
Helmi menyatakan langkah ini juga dalam upaya mengetahui lebih pasti sehingga guna mencegah agar tidak ditebang secara liar terutama pada lokasi hutan lindung dan sejauh ini dari pengamatan tak ditebang di hutan lindung. Dengan adanya pertemuan itu akan diketahui lebih jelas terhadap informasi dan bila ditemukan bahan baku kayu ilegal akan ditindak sesuai hukum berlaku.
Sebelumnya saat meninjau lokasi banjir di Pante Ceureumen pekan lalu, anggota DPR Aceh asal Aceh Barat, H Fadli MA meminta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Barat melakukan penyelidikan terhadap munculnya kayu-kayu gelondongan di lokasi banjir sehingga menjadi jelas kayu dari mana, apakah dari pembalakan liar atau kayu dari mana.
Sebab selama ini, Aceh sudah jeda tebang sehingga patut dipertanyakan. “Apalagi di kawasan itu ada sejumlah kilang kayu sehingga kita pertanyakan bahan baku dari mana,” ujar Fadli.(riz)
Sumber : Serambinews.com
Selasa, 07 Juni 2011
Kepala Jembatan Ulee Raket Makin Amblas
* DPRA Minta BMCK Segera Memperbaiki
Wed, Apr 6th 2011, 08:39

embatan Ulee Rakeet di lintasan Meulaboh-Pante Ceureumen, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, terancam ambruk akibat erosi dan tergerus banjir yang melanda kawasan itu terjadi pekan lalu. Foto direkam Jumat (1/4). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
MEULABOH - Kepala jembatan (abutment) Ulee Raket yang berada di lintasan Meulaboh-Pante Ceureumen, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kini semakin amblas ke sungai. Setelah sebelumnya diterjang banjir pada tahun 2010 lalu, jembatan penghubung yang berkontruksi rangka baja di kawasan pedalaman itu kembali diterjang banjir sehingga hanya menyisakan badan jalan sekitar dua meter saja, sedangkan sisanya amblas ke dalam sungai.
Akibatnya, lintasan provinsi yang selama ini dilintasi pengguna jalan itu kini semakin sulit dilalui dan dikhawatirkan akan putus total, dikarenakan hingga kini belum ada penanganan apapun oleh pihak terkait.
Camat Pante Ceureumen, Drs M Nur Yasin kepada Serambi, Selasa (5/4), mengaku longsor yang terjadi di abutment Jembatan Ulee Rakeet kini semakin memprihatinkan. Setiap hari abutment yang sebagian besar telah amblas ke dasar sungai itu permukaan tanahnya semakin turun dan ikut mengamblaskan permukaan abutment dan badan jalan lainnya.
Ia memprediksikan, apabila kerusakan abutment akibat longsor itu tak segera ditangani, maka dikhawatirkan 10.000 jiwa lebih masyarakat Pante Ceureumen akan terkurung. “Ini masalah serius yang harus segera ditangani Pemerintah Provinsi Aceh, karena kerusakan jembatan dan ruas jalan ini merupakan jalan provinsi. Dan sangat mengancam keselamatan pengguna jalan,” katanya.
Segera perbaiki
Sementara itu Wakil Ketua Komisi D DPR Aceh, Fadli MA meminta agar Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh segera memperbaiki kepala jembatan yang ambruk dihantam banjir tersebut. Pasalnya, bila terus dibiarkan akan berdampak putusnya hubungan transportasi antarkecamatan dan terkurungan ribuan masyarakat dari Kecamatan Pante Ceureumen.
“Kerusakan akibat ambruk itu semakin parah dan sejauh ini tak juga mendapat perhatian diperbaiki oleh Pemerintah Aceh, karena itu kita berharap bisa segera ditanggulangi,” ujar anggota DPRA asal Aceh Barat tersebut kepada Serambi, Senin (4/4) di Meulaboh.
Menurut politisi PPP ini, dari keterangan diperoleh dari Dinas Bina Marga Aceh Barat bahwa usulan perbaikan sudah pernah disampaikan ke Pemerintah Aceh saat ambruk beberapa bulan lalu yang juga akibat banjir. Selama ini ditangani darurat dengan batang pohon kelapa oleh Dinas Bina Marga Aceh Barat sambil menunggu ada bantuan dari Pemerintah Aceh. Namun musibah banjir pekan lalu kembali membuat ambruk sehingga kondisi kerusakan saat ini makin parah.
Karena itu, Fadli meminta BMCK bisa membantu perbaikan sehingga tidak terkesan pilih kasih dalam bantuan, apalagi ambruk jembatan itu akibat banjir yang seharusnya mendapat perhatian serius karena jembatan itu sebagai penghubung ribuan masayarakat Kecamatan Pante Ceureumen bila ingin ke Kota Meulaboh. “Kita khawatir bila tak ditangani segera dan jembatan putus masyarakat Pante Ceureumen akan terkurung,” jelas Fadli.(edi/riz)
Sumber : Serambinews.com
Wed, Apr 6th 2011, 08:39

embatan Ulee Rakeet di lintasan Meulaboh-Pante Ceureumen, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, terancam ambruk akibat erosi dan tergerus banjir yang melanda kawasan itu terjadi pekan lalu. Foto direkam Jumat (1/4). SERAMBI/DEDI ISKANDAR
MEULABOH - Kepala jembatan (abutment) Ulee Raket yang berada di lintasan Meulaboh-Pante Ceureumen, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, kini semakin amblas ke sungai. Setelah sebelumnya diterjang banjir pada tahun 2010 lalu, jembatan penghubung yang berkontruksi rangka baja di kawasan pedalaman itu kembali diterjang banjir sehingga hanya menyisakan badan jalan sekitar dua meter saja, sedangkan sisanya amblas ke dalam sungai.
Akibatnya, lintasan provinsi yang selama ini dilintasi pengguna jalan itu kini semakin sulit dilalui dan dikhawatirkan akan putus total, dikarenakan hingga kini belum ada penanganan apapun oleh pihak terkait.
Camat Pante Ceureumen, Drs M Nur Yasin kepada Serambi, Selasa (5/4), mengaku longsor yang terjadi di abutment Jembatan Ulee Rakeet kini semakin memprihatinkan. Setiap hari abutment yang sebagian besar telah amblas ke dasar sungai itu permukaan tanahnya semakin turun dan ikut mengamblaskan permukaan abutment dan badan jalan lainnya.
Ia memprediksikan, apabila kerusakan abutment akibat longsor itu tak segera ditangani, maka dikhawatirkan 10.000 jiwa lebih masyarakat Pante Ceureumen akan terkurung. “Ini masalah serius yang harus segera ditangani Pemerintah Provinsi Aceh, karena kerusakan jembatan dan ruas jalan ini merupakan jalan provinsi. Dan sangat mengancam keselamatan pengguna jalan,” katanya.
Segera perbaiki
Sementara itu Wakil Ketua Komisi D DPR Aceh, Fadli MA meminta agar Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh segera memperbaiki kepala jembatan yang ambruk dihantam banjir tersebut. Pasalnya, bila terus dibiarkan akan berdampak putusnya hubungan transportasi antarkecamatan dan terkurungan ribuan masyarakat dari Kecamatan Pante Ceureumen.
“Kerusakan akibat ambruk itu semakin parah dan sejauh ini tak juga mendapat perhatian diperbaiki oleh Pemerintah Aceh, karena itu kita berharap bisa segera ditanggulangi,” ujar anggota DPRA asal Aceh Barat tersebut kepada Serambi, Senin (4/4) di Meulaboh.
Menurut politisi PPP ini, dari keterangan diperoleh dari Dinas Bina Marga Aceh Barat bahwa usulan perbaikan sudah pernah disampaikan ke Pemerintah Aceh saat ambruk beberapa bulan lalu yang juga akibat banjir. Selama ini ditangani darurat dengan batang pohon kelapa oleh Dinas Bina Marga Aceh Barat sambil menunggu ada bantuan dari Pemerintah Aceh. Namun musibah banjir pekan lalu kembali membuat ambruk sehingga kondisi kerusakan saat ini makin parah.
Karena itu, Fadli meminta BMCK bisa membantu perbaikan sehingga tidak terkesan pilih kasih dalam bantuan, apalagi ambruk jembatan itu akibat banjir yang seharusnya mendapat perhatian serius karena jembatan itu sebagai penghubung ribuan masayarakat Kecamatan Pante Ceureumen bila ingin ke Kota Meulaboh. “Kita khawatir bila tak ditangani segera dan jembatan putus masyarakat Pante Ceureumen akan terkurung,” jelas Fadli.(edi/riz)
Sumber : Serambinews.com
Senin, 06 Juni 2011
Kerusakan Jalan Provinsi di Tiga Lintas Memprihatinkan
Tue, Apr 5th 2011, 08:29
MEULABOH-Anggota DPR Aceh menyatakan kesal terhadap banyaknya jalan provinsi/nasional di tiga lintas di wilayah Pantai Barat Aceh yang hingga kini kurang mendapat perhatian untuk diperbaiki sehingga kian memprihatinkan. Akibatnya masyarakat pengguna jalan mengeluh dan berharap diperbaiki sehingga tak makin parah.
Ketiga lintas itu adalah ruas jalan Meulaboh (Aceh Barat)-Calang (Aceh Jaya), ruas jalan Meulaboh (Aceh Barat)-Geumpang (Pidie), dan ruas jalan Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah). “Banyaknya kerusakan akibat kurang ada pemeliharaan,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPR Aceh, H Fadli MA didampingi anggota komisi, Ali Murtala kepada Serambi, di Meulaboh, Senin (4/4).
Menurut anggota DPR Aceh asal pemilihan Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Nagan Raya, untuk jalan Calang-Meulaboh kerusakan di kawasan Kaye Lon dan Arongan Lambalek serta sejumlah titik lainnya, sedangkan lintas Meulaboh-Geumpang terutama paling parah adalah di kawasan Tutut dan Panton Reu sehingga pengguna jalan mengeluh dan berharap ada perbaikan.
Untuk jalan di lintas Jeuram-Takengon terutama di kawasan Beutong Nagan Raya yang baru-baru ini longsor sehingga penderitaan masyarakat makin parah. Karena itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Bina Marga dan Cipta Karta (BMCK) Aceh untuk segera menanggalangi kerusakan ketiga ruas jalan provinsi/nasional tersebut.(riz)
SUmber : Serambinews.com
MEULABOH-Anggota DPR Aceh menyatakan kesal terhadap banyaknya jalan provinsi/nasional di tiga lintas di wilayah Pantai Barat Aceh yang hingga kini kurang mendapat perhatian untuk diperbaiki sehingga kian memprihatinkan. Akibatnya masyarakat pengguna jalan mengeluh dan berharap diperbaiki sehingga tak makin parah.
Ketiga lintas itu adalah ruas jalan Meulaboh (Aceh Barat)-Calang (Aceh Jaya), ruas jalan Meulaboh (Aceh Barat)-Geumpang (Pidie), dan ruas jalan Jeuram (Nagan Raya)-Takengon (Aceh Tengah). “Banyaknya kerusakan akibat kurang ada pemeliharaan,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPR Aceh, H Fadli MA didampingi anggota komisi, Ali Murtala kepada Serambi, di Meulaboh, Senin (4/4).
Menurut anggota DPR Aceh asal pemilihan Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Nagan Raya, untuk jalan Calang-Meulaboh kerusakan di kawasan Kaye Lon dan Arongan Lambalek serta sejumlah titik lainnya, sedangkan lintas Meulaboh-Geumpang terutama paling parah adalah di kawasan Tutut dan Panton Reu sehingga pengguna jalan mengeluh dan berharap ada perbaikan.
Untuk jalan di lintas Jeuram-Takengon terutama di kawasan Beutong Nagan Raya yang baru-baru ini longsor sehingga penderitaan masyarakat makin parah. Karena itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Bina Marga dan Cipta Karta (BMCK) Aceh untuk segera menanggalangi kerusakan ketiga ruas jalan provinsi/nasional tersebut.(riz)
SUmber : Serambinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)