Kamis, 26 Mei 2011

Banjir Meluas di Aceh Barat

* 100 Desa Terendam, Pengungsi Capai 7.291 Jiwa
Thu, Mar 31st 2011, 10:39


Warga melewati genangan banjir di kawasan Desa Napai, Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat, Rabu (30/3). SERAMBI/DEDI ISKANDAR

MEULABOH - Hujan deras disertai meluapnya sejumlah sungai besar di wilayah barat-selatan Aceh menyebabkan beberapa kawasan terendam, bahkan di Aceh Barat cakupan bencana dilaporkan meluas hingga mencapai 100 desa yang tersebar dalam delapan kecamatan. Hingga pukul 21.00 WIB tadi malam, pengungsi korban banjir luapan di Aceh Barat dilaporkan sudah mencapai 7.291 jiwa dan terus bertambah.

Banjir luapan di Aceh Barat terjadi sejak Selasa (29/3) malam dengan cakupan masih terbatas pada beberapa desa di Kecamatan Pante Ceureumen. Namun luapan sejumlah sungai besar terus meningkat sehingga tujuh kecamatan lainnya, yaitu Panton Reue, Woyla Barat, Woyla Timur, Arongan Lambalek, Johan Pahlawan, Meureubo, dan Kaway XVI menjadi sasaran.

Data sementara hingga tadi malam, tidak kurang 100 desa yang tersebar dalam delapan kecamatan itu terendam. Jumlah pengungsi sudah mencapai 7.291 jiwa. Sedangkan jumlah korban banjir seluruhnya--termasuk yang masih terkurung--diperkirakan mencapai 27.478 jiwa atau sekitar 5.447 kepala keluarga (KK).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek SH kepada Serambi tadi malam melaporkan, ketinggian air rata-rata yang merendam 100 desa dalam delapan kecamatan berkisar antara 1-2,5 meter. “Warga tak mungkin lagi bertahan, sehingga gelombang pengungsian tek terbendung,” kata Dadek.

Pihak BPBD Aceh Barat masih terus mendata jumlah korban banjir maupun pengungsi karena ada kecenderungan bertambah seiring semakin meluasnya cakupan banjir.

Untuk menanggulangi kebutuhan masa darurat untuk korban bencana, pihak BPBD bersama Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah membuka dapur umum pada titik-titik tertentu seperti di Kecamatan Woyla Barat dan Johan Pahlawan. Sedangkan untuk mengevakuasi korban banjir dan masyarakat yang terkurung, telah diturunkan tim relawan dengan kekuatan empat unit mobil beserta dua perahu karet. Evakuasi melibatkan tim SAR, Meulaboh Rescue, serta Tagana. Pemkab Aceh Barat juga telah menerima bantuan dari Dinas Sosial Aceh berupa pakaian (daster) dan telur 10.000 butir.

Pada Rabu kemarin Bupati Aceh Barat, H Ramli MS mengunjungi korban banjir di Desa Napai, Kecamatan Woyla Barat. Menurut Ramli, banjir juga telah mengambrukkan sebuah rumah di Kecamatan Panton Reue. “Kami minta pihak provinsi terus memberikan bantuan, karena bencana ini tak mampu ditangani pihak kabupaten saja,” kata Ramli.

Dalam rangkaian peninjauan titik-titik banjir di kawasan pedalaman Aceh Barat, Bupati Ramli menggunakan perahu dan perahu yang digunakan Bupati Ramli bersama wartawan dan seorang pejabat di jajarannya, pada Rabu siang kemarin sempat terbalik namun tak berakibat fatal.

Kabag Humas Setdakab Aceh Barat, M Amin SH mengatakan, sejumlah lembaga pendidikan di kecamatan yang terkena banjir terpaksa menghentikan aktivitas.

Banjir juga mengepung sejumlah kawasan di Kabupaten Nagan Raya, seperti desa-desa di Kecamatan Darul Makmur dan Tadu Raya. “Ketinggian air di titik-titik tertentu mencapai satu meter. Aktivitas warga terhenti, termasuk sekolah,” kata staf Humas Setdakab Nagan Raya, Zulkifli Jarid, tadi malam.

Aceh Jaya
Di Kabupaten Aceh Jaya, banjir merendam belasan desa di Kecamatan Teunom, Panga, Krueng Sabe, dan Sampoiniet. Banjir luapan itu menerjang sejak menjelang tengah malam, Selasa (29/3) dan masih mengepung hingga menjelang sore kemarin dengan ketinggian air antara 70 cm hingga satu meter.

Di Kecamatan Panga, setidaknya ada enam desa yang terendam, yaitu Panton Krueng, Gampong Harapan, Kuta Tuha, Batee Meutudong, Gunong Buloh, Babah Ceupan, dan Tuwi Kareung. “Ada sekitar 800 KK (3.000 jiwa) di keenam desa tersebut,” kata Camat Panga, Ichwan SSos.

Di Kecamatan Krueng Sabee, data sementara hingga sore kemarin, desa-desa yang terendam di antaranya Buntha, Panggong, Ranto Panjang, Alue Tho, Curek, Monmata, Keude Krueng Sabee dan Paya Seumantok. Dari 764 KK (2.568 jiwa) yang tersebar dalam delapan desa tersebut, sebagian besar di antaranya sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau menumpang di rumah-rumah famili. “Ketinggian air rata-rata 50 cm hingga 1,5 meter,” kata Camat Krueng Sabee, Mawardi M Ali.

Sedangkan di Teunom, desa-desa langganan banjir kembali mengalami musibah, yaitu Rambong Payong, Pasi Pawang, Pasi Geulima, Pasi Tulak Bala, Paya Baro, dan Gampong Baro. Ekses lainnya, arus transportasi di jalan nasional Banda Aceh-Meulaboh di Desa Gampong Baro, Kecamatan Teunom sejak pagi kemarin terganggu karena badan jalan terendam. “Kendaraan roda empat seperti L-300 harus didorong oleh masyarakat dengan jasa sekitar Rp 30.000 hingga Rp 50.000/mobil, sedangkan kendaraan roda dua diseberangkan dengan becak dengan tarif Rp 15.000/kendaraan,” kata Camat Teunom, Thaharuddin.

Banjir yang menerjang Aceh Jaya kali ini juga merendam Desa Alue Groe di Kecamatan Sampoiniet. Namun hingga sore kemarin, dari seluruh kawasan yang terendam di Kabupaten Aceh Jaya, belum ada laporan korban jiwa. “Meski demikian kita imbau warga tetap waspada,” kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Molitas Penduduk Aceh Jaya, Azhar.

Menurut Azhar, dari empat kecamatan di wilayahnya yang terendam banjir luapan, ada 20 desa yang terimbas. Bahkan, di Kecamatan Panga, sebagian gabah hasil panen terendam karena luapan terjadi sangat cepat. Sekitar pukul 15.00 WIB kemarin, genangan berangsur surut dan beberapa ruas jalan mulai normal.

Singkil
Di Kabupaten Aceh Singkil, ratusan rumah dan fasilitas umum lainnya termasuk areal pertanian terendam banjir luapan sejak Rabu (30/3) dini hari. Pantauan Serambi, banjir terparah menggenangi kawasan Handel dan Solok, Kecamatan Gunung Meriah. Juga Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil. Di kawasan itu ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. “Sebagain warga sudah mengungsi,” kata seorang warga setempat, Irwan.

Banjir juga merendam jalan Gunung Meriah menuju Singkohor dan Kota Baharu. Ketinggian air di jalan lebih selutut orang dewasa. Pengendara sepeda motor tidak bisa melintas. Luapan juga merendam ratusan hektare sawah di pinggiran sungai.

Kepala Bagian Produksi Dinas Pertanian Aceh Singkil, Kuatno mengatakan, pendataan sementara luas sawah yang terendam 175 hektare, terbanyak di Kecamatan Simpang Kanan.

Aceh Selatan
Dari Tapaktuan dilaporkan, banjir luapan yang melanda desa-desa di Kecamatan Kota Bahagia sejak Selasa (29/3) berangsur surut. Namun belasan rumah di Desa Beutong, hingga Rabu siang masih terendam. “Alhamdulillah, genangan air sudah mulai surut,” kata Camat Kota Bahagia, Muhammad Rasyid.

Menurut Rasyid dibenarkan Wakil Ketua DPRK Aceh Selatan, Khaidir Amin, Desa Beutong dan sekitarnya sangat rawan banjir, bahkan bisa mencapai tiga kali setahun. Ini disebabkan kurang berfungsinya saluran pembuang sehubungan makin dangkalnya Krueng Beutong.

Lhokseumawe
Hujan lebat bukan hanya mengguyur wilayah barat-selatan Aceh tetapi juga kawasan utara, termasuk Kota Lhokseumawe.Hujan yang mengguyur Kota Lhokseumawe selama dua jam sejak pukul 19.30 WIB tadi malam menyebabkan beberapa ruas jalan tergenang sebatas lutut, seperti Jalan T Chik Ditiro, Samudera, Pulo Baroh, Teuku Umar, dan Malikussaleh.

Bahkan di kawasan Lancang Garam, banjir genangan masuk ke rumah-rumah penduduk. Musibah serupa juga dialami masyarakat Desa Kampung Keuramat, Kampung Cina, Tumpok Teungoh, Hagu, dan sejumlah desa lainnya. “Harus ada solusi secepatnya untuk mengatasi masalah rutin ini,” kata Ketua Kadin Lhokseumawe, H Husaini Setiawan, menyikapi persoalan banjir genangan tersebut.(edi/c45/az/c39/ib)

Sumber : Serambinews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar